Home Sweet Loan: Impian Rumah Kelas Menengah
Home Sweet Loan (2024) adalah film drama keluarga yang disutradarai Sabrina Rochele Kalangi dan ditulis oleh Widya Arifianti dari adaptasi dari novel karya Amira Bastari berjudul sama.
Mengisahkan perempuan muda bernama Kaluna (diperankan Yunita Siregar), yang bekerja kantoran di Jakarta dengan gaji bulanan sekitar 6 juta. Untuk menambah penghasilan ia berkerja free lance sebagai model lipstik.
Kaluna masih tinggal bersama ayah dan ibu di rumah klasik sederhana warisan kakeknya. Tinggal juga dua kakaknya Kanendra (Ariyo Wahab) dan Kamala (Ayu Shita). Kanendra dan Kamala sudah menikah dan memiliki satu anak. Jadi rumah tersebut dihuni sembilan orang dari tiga kepala keluarga. Kita bisa tandai dari ada tiga kulkas yang ada di dapur rumah tersebut, berdekatan dengan meja makan yang hanya ada empat kursi. Di rumah itulah pusat konflik bercampur dari semua tokoh.
Sementara dua keluarga kakaknya yang hidup "seenaknya", Kaluna dan ibunya yang bertanggung jawab dalam rumah tersebut. Membersihkan rumah, mengatur mainan anak-anak yang berantakan, mencuci piring setelah makan malam bersama, hingga membiayai token listrik harus selalu ditanggung Kaluna.
Suatu malam, ketika Kaluna baru pulang kerja, ia menemukan kamarnya telah ditempati oleh keponakannya, dan ia harus tergusur ke kamar belakang yang biasa ditempati ART. Kekecewaan yang membuatnya bertekad memiliki rumah sendiri, supaya ia bisa istirahat dengan baik setelah lelah bekerja. Ia membayangkan betapa nikmatnya rebahan setelah kerja, mandi air hangat, dan memasak di dapur minimalis.
Demi mewujudkan impian tersebut Kaluna harus menabung sangat disiplin dan menghemat pengeluaran dalam penghasilannya yang tak seberapa. Ia mengandalkan transjakarta, jarang belanja walaupun diskon, membawa bekal ke kantor. Selama 7 tahun ia menabung terkumpul 330 juta rupiah.
Alur film juga diceritakan dari perspektif Kaluna bersama tiga sahabatnya, Tanish (Risty Tagor) yang sudah berkeluarga, Danan (Derby Romero), dan Miya (Fita Anggraini). Ketiga sahabat ini selalu mendukung Kaluna di tengah konflik keluarga dan masalah pekerjaan yang tak habis-habis.
Mereka menemani Kaluna mensurvei puluhan rumah di berbagai developer dengan cerita-cerita seru. Rumah yang bising oleh kereta, rumah yang airnya tidak jernih, rumah berbatasan kuburan, rumah bekas lokasi pembunuhan, dan sebagainya. Adegan-adegan mereka sangat hangat dan jujur menghadapi pahitnya kehidupan yang mereka hadapi. Kita harusnya bersyukur dan berbahagia jika punya support system seperti persahabatan mereka.
Apakah impian Kaluna bisa terwujud? Jika kita menonton tanpa pernah membaca novelnya, ceritanya tak mudah ditebak. Penonton akan selalu diberikan kejutan-kejutan menyenangkan dari rangkaian adegan seru dan mengharukan.
Film ini digarap Sabrina senyata mungkin dengan puluhan juta anak muda yang disebut "generasi sandwich". Generasi yang dihadapkan pilihan dilematis, memprioritaskan keluarga atau impian pribadi. Juga persoalan sulitnya mereka kelas menengah untuk memiliki rumah di perkotaan yang harganya jauh melampaui kemampuan penghasilan puluhan juta orang.

Komentar
Posting Komentar