Hari Minggu Tak Lagi Sama, Baggio

Kemarin Rabu 18 Februari 2027, timeline kanal informasi di media sosial memberitakan mantan pesepak bola Italia Roberto Baggio merayakan ulang tahun ke-59. Tanti auguri a Roberto.

Ingat Baggio otomatis pikiran langsung terbayang Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat, nyaris 32 tahun silam. Itu Piala Dunia pertama kali saya menonton secara intens.  

Baggio adalah protagonista Italia paling dikenang. Baggio memainkan Piala Dunia yang luar biasa, membawa Italia ke final dengan gol-gol penentu melawan Nigeria, Spanyol, dan Bulgaria. 

Pada pertandingan final melawan Brasil di Rose Bowl Pasadena, Los Angeles, untuk pertama kali juara dunia harus ditentukan melalui adu penalti. Dan seperti sejarah telah tercatat, tendangan penalti Baggio melambung tinggi di atas gawang Claudio Taffarel, memastikan kekalahan menyakitkan Italia. Ia menunduk meratapi nasib buruknya, foto yang ikonik dengan titel "the man who died standing"

Saya turut patah hati bersama Baggio dan Gli Azzuri, dan sejak itu saya selalu memfavoritkan Italia setiap ajang World Cup dan Euro. Saya juga mulai mengikuti Seri-A. Kami adalah generasi yang tumbuh menonton Liga Italia era 1990-an setiap Minggu malam di RCTI. Lega Calcio paling seru dan paling kompetitif, karena bertabur bintang dari pemain terbaik dari seluruh dunia, dan Baggio adalah satu sosok yang paling mewakili era tersebut.

Baggio adalah maestro, salah satu ikon sepak bola Italia, legenda dengan rambut kuncir panjang, bersepatu Diadora, dan kaus kaki dibiarkan bergulir ke bawah. Bermain bola layaknya seniman. Eksotis, anggun, brilian, dan penuh gaya. Ia bermain mengandalkan teknik, kecerdasan, dan sentuhan magic.

Ciri khasnya adalah melewati lawan dengan gerak badan meliuk, kemudian menggocek kiper yang tak berdaya lalu menceploskan ke gawang kosong. Sebelum Ronaldo "phenomeno" muncul, Baggio penyerang yang paling banyak mencetak gol dengan melewati kiper, gol-gol yang menjadi karya seni yang selalu dibicarakan dan dirayakan kembali.

***

Robi Baggio lahir di Caldogno pada 18 Februari 1967. Ia penganut Budha yang taat di negara Katolik. Karier sepak bolanya meliputi banyak tim: Vicenza, Fiorentina, Juventus, Milan, Bologna, Inter, dan Brescia.

Ketika membela Fiorentina, Baggio sudah bertarung hebat dengan Maradona Napoli; berduel dengan trio Jerman di Inter Milan: Lotthar Matthaues, Andreas Brehme, dan Jurgen Klinsmann; bersaing dengan trio Belanda di AC Milan, saat membela Juventus dan membawa era baru La Vechia Signora yang sangat hebat di bawah Marcello Lippi. Baggio memenangkan Ballon D'or 1993.

Di tim nasional, Baggio satu-satunya pemain Italia yang mencetak gol di tiga Piala Dunia, dan ketiganya hanya kalah dari adu penalti, di Napoli 1990, Pasadena 1994, dan di St Dennis 1998. Sepanjang karier ia memang hanya memenangkan sedikit trofi, tapi dinilai sebagai salah satu terbaik sepanjang masa. Juga salah satu pesepak bola paling dicintai karena aura dan kerendahan hati "The Divine Ponytail".

Ketika Baggio memainkan laga terakhir bersama Brescia pada 2004, hari Minggu tidak pernah sama lagi sejak itu.








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumbo: Dongeng Kesatria dari Kampung Seruni

Review Enlightenment Now: Kehidupan Menjadi Lebih Baik

Kenangan di Prambanan Jazz