Janice Tjen Petenis Indonesia Kelas Dunia

Pada Rabu 27 Agustus 2025 malam waktu Indonesia atau siang waktu di New York, Amerika Serikat, dengan bersemangat dan penuh harapan saya menonton pertandingan tenis tunggal putri US Open 2025 Round-2, antara petenis Indonesia Janice Tjen menantang petenis terbaik Inggris, Emma Raducanu, yang pernah juara pada 2021.

Dalam tenis, Grand Slam adalah level paling puncak. Seluruh petenis profesional punya ambisi untuk bertanding dan mengukir prestasi di turnamen prestisius ini. Jika bisa memenangkan turnamen ini namanya akan terukir abadi sebagai legenda.

Pencapaian Janice bagi tenis Indonesia sangat luar biasa dan membanggakan. Ia mengakhiri penantian selama 20 tahun ada petenis Indonesia berlaga di Grand Slam, setelah terakhir kali dilakukan oleh Angelique Widjaja pada US Open 2024. 

Janice yang berusia 23 tahun baru menjadi pemain profesional pada Juni 2024, mengikuti lapisan turnamen sirkuit, dari sebelumnya tidak masuk peringkat, hingga kini berada ranking 149. Gaya bermain Tjen dinilai sangat mirip dengan mantan petenis nomor satu Ashleigh Barty. Mengandalkan pukulan forehand yang kuat dan berputar dengan pukulan slice backhand yang tajam dan bervariasi, serta tidak takut untuk maju ke net. 

Untuk mencapai tahap ini ia mengalahkan tiga petenis kuat di babak kualifikasi. Pada debutnya di babak utama, Janice langsung meraih kemenangan brilian atas petenis peringkat ke-26 dan unggulan ke-24 dari Rusia, Veronika Kudermetova di Round-1 dengan skor 6-4, 4-6, 6-4. 

Kemenangan yang mengantar Janice ke Round-2 dan menantang Raducanu di Louis Amstrong Stadium, Flushing Meadows. Tidak sembarang petenis yang dapat dan beruntung tamping di Louis Amstrong yang berkapasitas 10.500 kursi. Lazimnya bagi petenis peringkat atas. Louis Amstrong adalah arena terbesar kedua setelah Arthur Ashe Stadium (23.000 seat), venue laga final. Tentulah bagi Janice menjadi pengalaman istimewa, sekaligus tantangan mengatasi rasa gugup bertanding di arena tenis yang megah.

Laga Janice dengan Raducanu merupakan laga pembuka di Louis Amstrong pada hari ke-4 turnamen, dimulai pada pukul 12.00 siang waktu setempat. Janice memasuki arena yang disinari matahari dengan mengenakan topi dengan outfit putih dan rok pink. Sedangkan Raducanu tampil elegan dengan rambut dikepang dengan jersei merah, rok coklat marun, dan sepatu merah. Nuansa yang baru dan segar di lapangan tenis masa kini.

Raducanu servis pertama, dan langsung mencetak dua ace. Ia pun membuka skor 1-0 setelah pukulan Janice keluar. Kemudian servis pertama Janice dipatahkan Raducanu setelah bola pukulan Janice membentur net, 2-0. Disusul 3-0 usai Raducannu memenangan jus. Baru pada game-4 Janice berhasil mencetak poin pertama saat pegang servis dan membuat satu ace. Saat Janice berusaha mendapatkan momentum, Raducanu bisa menahannya dengan, 4-1, 4-2. Sayang pada game-7 dan game-8, Janice tidak konsisten, Raducanu menutup set pertama 6-2 dalam waktu 35 menit. Di game-8 ini terjadi reli terpanjang dengan 18 pukulan yang menguras fisik di tengah terik matahari.

Pada set ke-2 Janice mencoba memperbaiki, tapi entah karena faktor gugup dan tekanan keras Raducanu, Janice banyak membuat kesalahan, sementara penampilan Raducanu justru semakin solid, ia memimpin 1-0, 2-0, lalu sampai 5-0. Untung saja Janice masih bisa meraih satu poin pada game-6, tapi itu hanya menunda sejenak kemenangan Raducannu pada game-7. Pertandingan selesai dengan kemenangan meyakinkkan Raducanu, 6-2, 6-1, yang membawanya ke Round-3.

Raducanu sangat puas dan bergembira dengan penampilannya yang solid. Sejak awal ia langsung menyerang dan menunjukkan permainan intens. Ia melakukan servis hampir sempurna yang sangat sulit dikembalikan dengan baik oleh Janice. Pukulan grandstroke dan backhand silang-nya sangat bertenaga untuk melumpuhkan pertahanan Janice yang mengadalkan forehand silang dan slice bakchand.

Setelah dua pertandingan, Raducanu terlihat gembira atas performanya, kepercayaan dirinya semakin tumbuh seiring setiap kemenangan. Ia telah menunjukkan ia telah siap kembali bersaing di level tertinggi. Raducanu telah membuktikan performa terbaiknya sejak menang gelar empat tahun silam.

Sedangkan bagi Janice, pertandingan ini adalah pengalaman yang sangat berharga. Ia meninggalkan lapangan Louis Amstrong Stadium setelah berjuang sebaik-baiknya. Janice tahu perjalanannya di US Open 2025 telah selesai, tapi masa depan cerah karier profesionalnya siap ia perjuangkan lagi sekaligus mengharumkan nama Indonesia di persaingan tingkat dunia.

Tetap semangat Janice, kami akan selalu mendukungmu.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Enlightenment Now: Kehidupan Menjadi Lebih Baik

Setelah Balapan, Konser Keren Lenny Kravitz (10)

Kenangan di Prambanan Jazz