Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Review Jalan Raya Pos, Jalan Daendels

Gambar
Buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels , karya Pramoedya Ananta Toer, menghidupkan kembali peristiwa kolonialisasi di Indonesia. Mengisahkan pembangunan Jalan Raya Pos ( Grote Postweg ) yang membentang sejauh 1.000 kilo meter dari Anyer, Banten, sampai Panarukan, Jawa Timur. Jalan raya ini dibangun hanya dalam waktu setahun pada 1808-1809, di bawah perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Williams Daendels, yang sangat berambisi menguasai Jawa. Pramoedya merekonstruksi sejarah penindasan Daendels dengan menuturkan sisi paling kelam dari genosida pembangunan jalan. Ia mengistilahkan ruas-ruas jalan raya ini beraspalkan darah dan air mata. Pekerja dipaksa rodi, banyak mati karena keletihan, kelaparan, atau terserang penyakit malaria dan yang lain. Ratusan mayat berceceran tak diurus selama masa pembangunan. Jalan Raya Pos telah menjadi infrastruktur penting sejak digunakan pada 1809. Tak salah jika disebut jalan yang menjadi penentu kehidupan pulau Jawa. Jalanan ini berukur...

Namanya Hidup Ada Tawa dan Ada Duka

Gambar
Suka Duka Tawa adalah film oke untuk memulai tahun 2026. Film bergenre drama komedi yang mengisahkan perjuangan seorang komika perempuan bernama Tawa, yang menjadikan aib keluarganya sebagai materi komedi di atas panggung, ia menertawakan masa silam yang kelam. Tawa adalah anak tunggal pasangan Keset dengan Cantik. Pada saat Tawa umur 6 tahun, Keset kabur meninggalkan Tawa dan Cantik, untuk mengejar karier sebagai pelawak grup klasik yang bermain sketsa komedi. Sulit untuk tidak mengingat gaya lawakan grup legendaris, Srimulat. Kepergian Keset tentu menciptakan luka dan trauma bagi Tawa dan ibunya yang harus berjuang mencari nafkah, berpindah-pindah kos kamar sempit. Tawa juga harus bekerja apa saja demi bertahan hidup di belantara ibu kota yang kejam, dari pegawai toko furniture yang dipecat sampai ia mencoba sebagai komika. Tawa bersama gengnya, memang sering mengunjungi suatu komunitas open mic . Pada suatu momen, Tawa naik ke panggung, ia membawakan materi berdasarkan kemarahan...

Review Berebut Jiwa Bangsa: Dialog, Perdamaian, dan Persaudaraan

Gambar
Franz Magniz-Suseno adalah seorang rohaniwan, filusf, aktivitis, budayawan, intelektual kelahiran Jerman, ia kemudian terpaksa menjadi pengungsi perang, dan sampai ke Indonesia sejak 1962, memilih menjadi WNI, dan mencintai sepenuh hati Indonesia. Sejak tinggal di sini, Franz sangat peduli sekaligus prihatin terhadap persoalan-persoalan bangsa. Ia pun menuliskan dan menerbitkan banyak artikel, esai, opini, dan sejumlah buku untuk menawarkan solusi bijaksana. Gagasan dan argumentasinya melampaui ruang dan zaman. Salah satu bukunya yang diterbitkan pada November 2006 berjudul Berebut Jiwa Bangsa : Dialog , Perdamaian , dan Persaudaraan , ternyata semakin relevan ketika kita membacanya dua dekade berselang. Mengajarkan kita etika, kebaikan, kejujuran, tanggung jawab sebagai manusia. Bagaimana manusia harus hidup, bertindak dan membangun hubungan di antaranya agar sesuai dengan martabat manusia. Cinta kasih lebih kuat daripada kebencian, kerendahan hati lebih ampuh daripada kesombongan,...