Na Willa: Masa Kanak-kanak yang Dirindukan

Sepertinya sudah menjadi tradisi, libur lebaran diisi pergi ke bioskop nonton bareng film keluarga. Setelah tahun lalu film Jumbo yang meledak, lebaran kali ini kita dihibur film berjudul Na Willa, yang juga dibuat sutradara Ryan Adriandhy dan rumah produksi Vinisinema.

Na Willa didaptasi dari novel berjudul sama karya Reda Gaidiamo yang belum saya baca. Film ini berkisah kehidupan Na Willa (diperankan Luisa Adreena) anak perempuan 5 tahun, bersama keluarga dan kawan-kawannya di Gang Krembangan Surabaya pada akhir 1960-an.

Bapak Willa bernama Paul (Junior Liem), ia bekerja sebagai pelaut yang selalu berlayar berbulan-bulan meninggalkan rumah. Saking lamanya Willa sempat lupa wajah Pak ketika pulang. Jadilah Willa dalam pengasuhan penuh mama Marie (Irma Novita Rihi). Di rumah mereka juga tinggal mbok (Mbok Tun) yang sangat pandai memasak.

Keseharian Willa juga menyenangkan karena punya tiga sahabat. Ada Farida (Freya Mikhaila) yang cadel, Dul (Azami Syauqi) yang paling jago segala permainan, dan Bud (Ibrahim Arsenio) yang selalu ingusan. Ceritanya seru dan disampaikan dengan cara yang mudah dipahami terutama anak-anak. Meskipun begitu, film ini cocok untuk semua kalangan. Dari Generasi X, Milenial, Gen Z, hingga Gen Alpa.  

Dari keempat bocah polos ini, saya (kita) yang sekarang sudah dewasa atau bahkan sebagai orangtua, teringat kembali masa kanak-kanak yang menyenangkan. Betapa gembiranya dulu saat bermain kelereng, adu layangan, bermain bola sampai azan Magrib, mengumpulkan "abri-abrian", dan banyak lagi permainan yang membangkitkan kenangan masa kecil. Membuat kita ingin ikut bermain bersama mereka.


Ryan menggarapnya sangat detail dengan visualnya luar biasa cantik. Penonton terpukau dengan setting rumah klasik dengan ornamen-ornamen jadul seperti pagar, ubin keramik, jemuran tali, pigura, meja makan, radio tabung, dan banyak lagi. Barang-barang lawas itu bukan sekadar hiasan tapi bagian dari cerita penuh kesan.

Kita juga bernostalgia dengan kehidupan guyub warga gang yang saling menyapa, orang membaca koran dengan ejaan lama, keriuhan pasar tradisional, Pak Pos mengantar surat. Saya suka sekali scene pesta perkawinan yang dilaksanakan di Gang Krembangan. Ditampilkan seontentik mungkin pada zaman itu, Maret 1968. Musik dan lagu-lagu pun sangat bagus mengiringi adegan. Dari penyanyi legendaris Lilis Suryani, hingga grup Laleilmanino yang menyanyikan dengan ceria "Sikilku Iso Muni".

Begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, banyak pelajaran moral tentang kehangatan keluarga, kejujuran, perkawanan yang tulus, kerukunan beragama, dan sistem pendidikan. Begitu dekat dan nyata di depan kita bahkan sampai sekarang.

Na Willa bukan sekadar menonton film, tapi menikmati kenangan dengan suasana yang akrab dan hangat bersama keluarga dan orang-orang tersayang.








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumbo: Dongeng Kesatria dari Kampung Seruni

Kenangan di Prambanan Jazz

Review Enlightenment Now: Kehidupan Menjadi Lebih Baik