Hari Sambangan ke Pare (8)

Terminal Pare Kediri berlokasi di Desa Tulungrejo, merupakan gerbang utama menuju kawasan Kampung Inggris Pare. Kami menumpang Grab yang berjarak 1,5 kilometer.

Pada malam itu Senin 12 Oktober 2026 pukul 19.30 WIB, Vera dan saya tiba Camp Kyarra yang terletak di Jalan Asparaga No. 13. Kami sangat senang dan antusias, tidak sabar bertemu lagi dengan Uswa dan menyaksikan dari dekat kegiatan bersama teman-teman sekolahnya selama kursus singkat di Pare. Ini semacam "Sambangan", istilah klasik di Jawa ketika orangtua sedang mengunjungi anak di pondok pesantren.

Camp Kyarra ternyata sangat luas dan memiliki fasilitas lengkap. Bangunan arsitekturnya bergaya modern dengan konsep Nusantara dengan sentuhan tradisional Jawa. Waktu kami datang sudah berfungsi 5 gedung asrama utama dan masih terus dilakukan perluasan pembangunan.

Lingkungan belajar yang tenang, nyaman, bersih, dan rindang pepohonan. Terdapat banyak ruang belajar terbuka, seperti aula, pendopo, dan Joglo, serta beberapa lapangan olahraga yang bagus.

Kami juga memilih menginap di Kyarra Gedung Sulawesi, tarifnya 250 ribu rupiah. Usai memasukkan koper dan bersih-bersih badan selepas perjalanan bus, pada pukul 19.30 WIB kami sudah menunggu kehadiran Uswa di pendopo Joglo, tempat berlangsung farewell party. Yes, malam itu penutupan kursus singkat mereka di Pare, dan besok pagi akan melanjutkan fieldtrip ke Jogja.

Farewell party dikemas dengan suasana santai, gembira, dan hangat, bergantian mereka mengisi panggung kecil dengan penampilan-penampilan membawakan lagu, tarian, membacakan puisi, fun games, dan pengumuman peserta dan grup terbaik. Sungguh menyenangkan Vera dan saya bisa hadir langsung menyaksikan malam penuh keakraban tersebut.

Acara itu berakhir pada pukul 21.30 WIB, dan mereka diarahkan untuk kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Orangtua atau pedamping juga sudah tidak diperbolehkan lagi berkumpul bersama sang anak.

Karena belum makan sejak terakhir di Surabaya, tentu saja kami sudah lapar dan waktunya menyantap malam yang telat. Sayang persewaan sepeda malam itu sudah tutup, sehingga harus berjalan kaki menyusuri sekitar Jalan Asparaga, yang berjarak 300 meter ada Pasar Malam, lengkap dengan bianglala di Lapangan Tulungrejo.

Vera dan saya memilih menyantap di Kedai Kopi Joni yang bernuansa klasik. Dengan menu nasi ayam geprek, mi goreng telur, mendoan, dan kopi itam, kami menghabiskan satu malam yang berkesan.

Salam hangat dari Tulungrejo. 













Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berziarah ke Makam Nabi Muhammad SAW (8)

Merayakan Kenangan di Konser Dewa 19

Konser Parade Hujan di Stadium Merdeka (7)