Postingan

Malam Minggu di Tunjungan (2)

Gambar
Kalau Bandung punya Braga , Jogja punya Malioboro , maka Surabaya punya Tunjungan. **** Vera dan saya menginap di Grand Swissbell Hotel di Jalan Bintoro kawasan Raya Darmo.  Kami mulai menjelajahi Surabaya pada sore sekitar pukul 15.30 WIB, tujuan pertama adalah makan siang sekaligus makan malam di Sego Sambel Mak Yeye .  Hanya 3 kilometer jaraknya dari hotel dan 10 menit jika naik Grab .  Ketika sampai di warung yang terletak di Jalan Jagir, kawasan Pasar Wonokromo, warung tersebut baru siap-siap buka, kami rupanya pelanggan pertama pada hari penjualan Sabtu 10 Oktober 2026. Ya warung ini melayani pelanggan dari sore hingga malam.  Saya memesan paket sego lele komplit, telur dadar, tempe, kerupuk kaleng, dan es jeruk, sedangkan Vera paket sego ikan pari. Makk nyuss . Usai menyantap dengan lahap menu spesial itu, rasanya kami siap melanjutkan akhir pekan di Surabaya. Menjelang waktu Magrib yang jatuh pada pukul 17.25 WIB, Vera dan saya memilih bermalam mingguan d...

Surabaya Pada Mulanya

Gambar
Bagi saya Surabaya adalah kota penghubung Makassar dengan Yogyakarta. Saya mengenalnya sebagai ibukota Jawa Timur, kota Pahlawan, kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta, atau kota markas klub Persebaya yang merupakan rival klasik PSM Makassar, klub kebanggaan saya.  Surabaya pula kota pertama yang saya singgahi di Pulau Jawa.  Saya masih mengingatnya dengan baik, pada Selasa 15 Juli 1997, ketika itu saya meninggalkan Makassar dari Bandara Hasanuddin Mandai menumpamg pesawat Sempati Air tiba di Bandara Juanda Surabaya, untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan dengan bus PO Eka selama 7 jam menuju Jogja. Sejak tahun 1997 hingga 2008 saya menetap di Jogja untuk bersekolah. Setiap tahun sekali atau mungkin dua kali, saya mudik ke Makassar, dan kebanyakan perjalanan tersebut transitnya di Surabaya, baik menumpuang bus Eka , travel Rahmalia , atau naik kereta api. Dari Surabaya menuju Makassar ada dua moda yang saya pilih, kapal laut dan pesawat. Saya jadi akrab dengan...

Investasi Emas Tring! Pegadaian: Dari Sedikit Menjadi Bukit

Gambar
Menjajaki pengalaman baru dan bertemu orang baru selalu menarik bagi saya. Ketika Pegadaian yang bermitra dengan Kompasiana menggelar event literasi keuangan digital bertajuk  "Financial Literacy on the Way (FLOW)- Financial Mandiri Dimulai Hari ini"  di kota Makassar, saya tentu tidak ingin melewatkan kesempatan baik ini. Saya belum memahami dengan baik instrumen-instrumen dan layanan digital Pegadaian. Masih melekat pola pikir saya bahwa layanan pegadaian masih konvesional, yakni menerima gadai barang-barang fisik seperti emas, alat elektronik, dan perlengkapan rumah tangga. Dari pengalaman pribadi sewaktu zaman mahasiswa (2000-2005) beberapa kali saya menggadai televisi dan sepeda motor di Pegadaian Taman Siswa Wirogunan. Istilah populernya dulu di kalangan mahasiswa adalah "sekolah". Pengalaman yang membentuk kesan "negatif". Kita malu-malu jika ada teman atau tetangga yang mengetahui kita datang ke kantor pegadaian. Sudah terpatri di benak umum jika b...

Jalan-jalan Malam di Manahan (24)

Gambar
Saya tiba di Stasiun Balapan Solo menjelang azan Magrib pada Kamis 23 Juli 2026. Jika berjalan keluar stasiun, kita akan melewati koridor jendela kaca dan dapat melihat keindahan suasana kota dan kemegahan Masjid Sheihk Zayed, ikon baru Solo. Kesan pertama yang membuat kita akan menyukai kota ini. Jarak Stasiun Balapan ke hotel tempat saya menginap Sans Hotel Fourth Loft, di Jalan M.H Thamrin, Laweyan, sekitar 3,5 kilometer. Mengorder Grab cukup murah (Rp. 21.500), tapi jauh lebih murah tarif KRL yang mengantar saya dari Stasiun Lempuyangan Jogja ke Solo, hanya 8.000 rupiah saja pembayaran e-money. Saya sengaja memilih hotel area Manahan, karena ingin menyambangi Stadion Manahan yang terletak di Jalan Adi Sucipto, Banjarsari, Surakarta. Sebagai penggemar sepak bola dan penikmat ruang publik seperti stadion, saya sudah me- list Manahan sebagai destinasi wajib jika berkunjung ke Solo. Usai mandi dan salat Magrib, saya bergegas pergi ke kompleks Manahan, yang jaraknya hanya 750 meter. ...

Angkringan Mas Yudi di Nitipuran (23)

Gambar
Penyair Joko Pinurbo menulis satu puisi yang terkenal, bahkan liriknya dimural sebagai spot foto  di Teras Malioboro 1. "Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan" Siapa pun yang pernah tinggal di Jogja bisa merasakan ikatan emosional dan kenangan menyantap makanan sederhana dalam suasana kehangatan di angkringan .  Tak afdal rasanya “pulang” ke Jogja tidak singgah di angkringan.  Suatu siang pada Rabu 22 Juli 2026, setelah berkeliling di kawasan selatan Jogja , saya sampai di Jalan Nitipuran, Ngestiharjo, dan memutuskan berhenti di satu angkringan di tepi jalan untuk makan siang. Angkringan yang sangat tradisional, terdiri dari gerobak tempat menjajakan menu-menu masakan kampung, dan gerobak sekaligus menjadi meja makan. Disedikan dua bangku kayu panjang, dan ditutupi terpal besar berwarna biru. Angkringan seperti ini hanya muat untuk enam pelanggan dalam waktu yang bersamaan. Ketika saya datang pukul 12.50 WIB, ada tiga orang yang sedang makan, dua di antaranya c...