Surabaya Pada Mulanya
Bagi saya Surabaya adalah kota penghubung Makassar dengan Yogyakarta.
Saya mengenalnya sebagai ibukota Jawa Timur, kota Pahlawan, kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta, atau kota markas klub Persebaya yang merupakan rival klasik PSM Makassar, klub kebanggaan saya.
Surabaya pula kota pertama yang saya singgahi di Pulau Jawa. Saya masih mengingatnya dengan baik, pada Selasa 15 Juli 1997, ketika itu saya meninggalkan Makassar dari Bandara Hasanuddin Mandai menumpamg pesawat Sempati Air tiba di Bandara Juanda Surabaya, untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan dengan bus PO Eka selama 7 jam menuju Jogja.
Sejak tahun 1997 hingga 2008 saya menetap di Jogja untuk bersekolah. Setiap tahun sekali atau mungkin dua kali, saya mudik ke Makassar, dan kebanyakan perjalanan tersebut transitnya di Surabaya, baik menumpuang bus Eka, travel Rahmalia, atau naik kereta api. Dari Surabaya menuju Makassar ada dua moda yang saya pilih, kapal laut dan pesawat.
Saya jadi akrab dengan Terminal Purabaya Bungur Asih, Bandara Juanda, Pelabuhan Tanjung Perak, serta Stasiun Pasar Turi. Begitupun kalau dari Makassar ke Jogja, hanya sesekali saya menumpang pesawat langsung Makasasar ke Jogja karena harganya sangat mahal bagi untuk mahasiswa.
Tapi waktu itu kesan saya pada Surabaya biasa-biasa saja, tidak membuat saya merasa ingin berlama-lama, sekali lagi hanya sekadar transit untuk melanjutkan ke Makassar atau ke Jogja.
Waktu terus berputar, pada Sabtu 10 Oktober 2026, saya kembali berada di Surabaya, kali ini bersama istri, Vera. Kami melakukan perjalanan selama sepekan di bagian timur Pulau Jawa. Saatnya mengeksplore Surabaya dengan segala dinamikanya.

Komentar
Posting Komentar