Wajah Baru Kota Lama Surabaya (5)

Pada Minggu malam 11 Oktober 2026, usai Vera dan saya berkunjung ke Pakuwon Mall, saya masih melanjutkan city tour sendirian ke kawasan Kota Lama Surabaya.

Dari Midtown Hotel saya singgah terlebih dulu menyantap malam di Sate Klopo Ondomohen Bu Asih di kawasan Genteng, sate yang terkenal dengan ciri khas parutan kelapa dalam bumbu kacang, sangat nikmat.

Menjelang pukul 21.00 WIB, saya kembali mengorder Grab untuk mengantar saya ke Kota Lama Surabaya. Jaraknya sekitar 5 kilometer dan ditempuh 15 menit saja di lalu lintas malam yang lancar. 

Sepanjang perjalanan saya dapat menyaksikan dan merasakan suasana malam Surabaya dengan gemerlap lampu lampu kota dan taman-taman teduh, kotanya juga sangat teratur dan rapih. Tidak terasa sudah tiba di titik pengantaran, Jalan Rajawali, yang dulu bernama hereenstrat, kawasan elite tempat tinggal pejabat kolonial. 

Inilah saya di Kota Lama, di jantung Kota Pahlawan. Waktu itu pukul 21. 20 WIB, tidak begitu ramai, dan juga tidak sepi. Justru semakin malam aura khas kawasan ini semakin kuat dan berenergi.  Cahaya-cahaya lampu yang ada di bangunan menambah cantik suasana malam. 

Kawasan Jalan Rajawali dipenuhi ratusan bangunan-bangunan bersejarah bernuansa Eropa, karena pada abad ke-18 merupakan pusat perkantoran, pangkalan militer, polisi, pemukiman pejabat kolonial. Gedung-gedung yang mencerminkan kemegahan dan kekuasaan.

Paling luas dan pusat keramaian adalah Gedung Internatio (Internationale Crediten Handelvereeninging) kantor perdagangan dengan pilar-pilar raksasa dan memiliki Plaza lapang yang bersebelahan dengan Taman Sejarah. Juga Gedung PTPN yang dulu bernama Handelsvereeniging Amsterdam (HVA), kantor pabrik gula dengan bangunan pilar-pilar kokoh. 

Gedung Cerutu dengan menara berbentuk cerutu di sudut juga mencolok, gedung ini dibangun oleh NV Maatsschappij Tot Exploitatie pada 1916. Perhatikan pula gedung Nederlands Spaarbank atau yang biasa Bank Tabungan untuk Manfaat Umum. Nutsspaarbank merupakan satu-satunya bank di Kota Surabaya kala itu. Kemudian ada Kantor Pos Kebon Rejo, lalu Hotel Horison Arcadia yang dulunya kantor perkebunan Geo Wehry. 

Tidak jauh dari Internatio, masih berfungsi Jembatan Merah yang ikonik. Jembatan yang terkenal sebagai titik pertempuran 1o November 1945, juga masih berdiri kokoh, merupakan salah satu ikon Surabaya. Saya melintasi Jembatan Merah di atas Sungai Kalimas dan menemukan Jalan Kembang Jepun yang bernunasa Jepang, dengan lampion di atas jalanan.

Pada pagi sampai sore Jalan Kembang Jepun sibuk dengan adanya bank, toko bangunan, stationery, dengan plang toko tulisan kanji. Jika malam jalan lebar ini ditutup untuk kendaraan, beralih fungsi pujasera kuliner yang menjajakan kerak telur, nasi goreng, dimsum, bakso, kopi, pempek, dan sebagainya. Saya membeli nasi goreng malam itu untuk dibawa ke hotel. 

Di bagian tengah ada kelompok pengamen di tengah menghibur pengunjung bersantai, malam itu mereka menyanyikan lagu-lagu balada Ebiet G Adi dan Iwan Fals.

"Dia tahu dia rasa.. maka tersenyumlah kasih...tetap langkah jangan hentikan...cinta ini milik kita"

Seperti Jalan Tunjungan, kawasan Kota Lama usai direvitaliasi pada 2024, telah menjadi destinasi favorit Surabaya. Kawasan yang membangun ekosistem ekonomi kreatif warga dengan berdirinya kafe-kafe, jasa fotografi, penjualan asesoris, bunga, lukisan, persewaan busana adat, persewaan sepeda ontel, becak, dan mobil jip untuk berkeliling Kota Lama.

Satu lagi pengalaman baru mengeksplore sejarah di suatu malam kota Surabaya.






























Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berziarah ke Makam Nabi Muhammad SAW (8)

Konser Parade Hujan di Stadium Merdeka (7)

Drama Lima Babak Perundingan Aceh di Helsinki (16)