Malam Minggu di Tunjungan (2)
Kalau Bandung punya Braga, Jogja punya Malioboro, maka Surabaya punya Tunjungan.
****
Vera dan saya menginap di Grand Swissbell Hotel di Jalan Bintoro kawasan Raya Darmo. Kami mulai menjelajahi Surabaya pada sore sekitar pukul 15.30 WIB, tujuan pertama adalah makan siang sekaligus makan malam di Sego Sambel Mak Yeye. Hanya 3 kilometer jaraknya dari hotel dan 10 menit jika naik Grab.
Ketika sampai di warung yang terletak di Jalan Jagir, kawasan Pasar Wonokromo, warung tersebut baru siap-siap buka, kami rupanya pelanggan pertama pada hari penjualan Sabtu 10 Oktober 2026. Ya warung ini melayani pelanggan dari sore hingga malam. Saya memesan paket sego lele komplit, telur dadar, tempe, kerupuk kaleng, dan es jeruk, sedangkan Vera paket sego ikan pari. Makk nyuss.
Usai menyantap dengan lahap menu spesial itu, rasanya kami siap melanjutkan akhir pekan di Surabaya.
Menjelang waktu Magrib yang jatuh pada pukul 17.25 WIB, Vera dan saya memilih bermalam mingguan di kawasan Jalan Tunjungan, ruang publik di kawasan strategis sarat sejarah, salah satu destinasi paling ikonik ibukota Jawa Timur ini.
Kami sengaja memilih Hotel Majapahit sebagai titik awal “Mlaku-mlaku nang Tunjungan”. Dulunya bernama Hotel Yamato, tempat peristiwa perobekan bendera Belanda menjadi bendera Indonesia pada 19 September 1945, peristiwa yang menjadi cikal Surabaya dijuluki Kota Pahlawan.
Lampu-lampu kota mulai menyala, langkah-langkah kaki pengunjung seolah diperlambat, waktunya menikmati atmosfer heritage Surabaya. Tunjungan ramah pagi pejalan kaki, karena tak ada mobil dan kendaraan bisa parkir di bahu sepanjang jalan.
Berjalan di Jalan Tunjungan sepanjang 800 meter di kedua trotoar yang luas, di barisan bangunan-bangunan tua cagar budaya yang telah berganti fungsi, kita menemukan halte, ragam warung kuliner, photo booth, bangku-bangku klasik, karya seni mural, lampu-lampu antik, penjual bunga, atau pemusik jalanan. Semuanya membangun identitas dan karakter Tunjungan.
Saya melihat semua kalangan manusia berkunjung malam itu, mereka ingin bersantai. Tidak harus belanja dan makan. Datang, berjalan kaki, lalu duduk-duduk santai menikmati suasana sambil menyaksikan banyak kegiatan rasanya sudah cukup menghibur. Seperti menemukan jeda dari laju kota metropolitan yang bergerak cepat.
Setelah mengalami pasang surut, Jalan Tunjungan menjelma sebagai ruang publik dengan ragam tujuan para pengunjung, tapi juga menyatukan sejarah, identitas kota, dan gaya hidup masyarakat urban.
Vera dan saya mengakhiri jalan-jalan di Tunjungan selama dua jam dengan nongkrong di Kopi Padma, kami menyesap kopi, croissant, dan padma platter yang lezat.
Tunjungan yang berkesan ..

Komentar
Posting Komentar