Selamat Datang di Pontianak Zamrud Khatulistiwa (1)

Setiap perjalanan akan menciptakan ceritanya masing-masing. Pada kesempatan ini saya akan berbagi pengalaman perjalanan ke Pontianak Kalimantan Barat dan ke Khucing Sarawak Malaysia. Tujuan utama adalah mengantar ibu saya berobat sakit retak tulang belakang di rumah sakit di Kuching Malaysia. Ini kedua kalinya ibu dibawa setelah yang pertama pada September 2025

*****

Pada Rabu menjelang siang, 22 April 2026, kami berlima  (ayah, ibu, saya, Uci, dan Humairah) berangkat dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar tujuan Pontianak via transit di Balikpapan Kalimantan Timur.

Pesawat Airbus A-320 Batik Air nomor ID-6317 yang kami tumpangi takeoff pukul 12.00 dan tiba pukul 13.05 di Sepinggan Balikpapan, kemudian melanjutkan penerbangan selama 1, 5 jam, dan mendarat di Bandara Supadio Pontianak pada pukul 14.27 WIB. Ada perbedaan satu jam waktu Pontianak dengan Balikpapan dan Makassar.

Senang dan bersemangat karena ini kunjungan pertama saya ke Pontianak. Sejak lama saya sudah memikirkan kesempatan datang ke sini. Jika kita ingat belajar IPS dan Geografi di sekolah mengajarkan bahwa Pontianak adalah ibu kota Kalimantan Barat yang sangat luas, kota garis khatulistiwa, ada Sungai Kapuas yang sangat terkenal, serta kota yang selalu diberitakan berkabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan gambut.

Nama kotanya juga unik (berakhiran -nak, atau sering terdengar kuntilanak) dibandingkan nama-nama kota di Indonesia. Beberapa teman lama sewaktu sekolah di Jogja juga sering bercerita tentang Pontianak yang unik dan menarik. Ada yang bilang kuntilanak itu hantunya, Pontianak itu kotanya.

Kota Pontianak terletak di tepi Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia, sekitar 1.140 kilometer, berkelok-kelok melewati laut dan hutan lebat Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Menurut standar kota Indonesia, Pontianak adalah kota sedang, dengan jumlah penduduk sekitar 700.000 penduduk. Ada tiga kelompok etnis utama yang tinggal di kota ini: suku Dayak, etnis Melayu, dan orang Tionghoa. Keberagaman etnis yang hidup harmonis ini memperkuat budaya dan identitas kota yang dinamis. 

Di perjalanan keluar Bandara Supadio menuju pusat kota, sudah begitu banyak rencana mengekspore kota ini. Tapi yang pertama kami singgahi tentu saja restoran mengingat penerbangan barusan melewatkan waktu makan siang yang membuat perut kelaparan. Adi yang sudah setahun bekerja di Pontianak membawa kami ke RM Periuk Live Seafood. Menunya istimewa, kami menyantap nasi nila goreng, kerang saos padang, cumi goreng tepung, sayur kangkung, dan penutup es teler yang segar. Pilihan yang sungguh tepat.

Usai makan siang yang terlambat itu menjelang sore pukul 16.00 WIB, kami menuju rumah di bilangan Jalan Parit Haji Husin yang terkenal dengan nama "Paris". Tidak lama setelah tiba di rumah, hujan deras mengguyur Pontianak. Celakanya saya lupa memasukkan sepatu di teras sehingga basah total. Seberapa banyak lagi kejutan-kejutan ke depan?

Selamat datang di Pontianak. Salam hangat.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumbo: Dongeng Kesatria dari Kampung Seruni

Kenangan di Prambanan Jazz

Review Enlightenment Now: Kehidupan Menjadi Lebih Baik