Wenger: My Life and Lesson in Red and White

Arsene Wenger adalah satu manajer sepak bola paling ikonik dan paling dihormati sepanjang sejarah, ia pemimpin yang inspiratif, inovatif, berwawasan luas, dan berwibawa. 

Buku otobiografi Arsene berjudul My Life in Red and White (2020) menapak tilas hidupnya yang luar biasa. Kariernya sangat spektakuler, kaya, dan penuh warna. Wenger dikenal luas sebagai manajer visioner yang memimpin Arsenal menjadi tim global dengan gaya permainan aktraktif, sekaligus merevolusi sepak bola Inggris. 

Bab pembuka dikisahkan masa kecilnya yang cukup mengharukan di Desa Alsace Duttlenheim Strasbourg, pinggiran Paris Perancis. Desa yang terkenal dengan pandai besi dan petani yang mengendarai kuda. Wenger kecil terobesi dengan sepak bola. Ia bermain untuk tim desa, dan kemudian tim Strasbourg yang kelak ia pun sebagai pelatih. Waktu kecil ia mengenang menonton dari tv hitam-putih pertandingan final Piala Champions 1960 ketika Real Madrid mengalahkan Eintracht Frankfurt 7-3 di Hampden Park Glasgow. Wenger bocah mengidolakan Madrid, klub yang kelak ia tolak dua kali saat bersama Arsenal

Kemudian ia menukangi Monaco dan di sana ia mengorbitkan George Weah yang pernah terpilih pemain terbaik dunia pada 1995 dan menjabat Presiden Liberia. Kariernya kemudian berlanjut ke Jepang membesut Nagoya Grampus pada musim 1995-1996.

Hidup dan Mati di Arsenal

Wenger terkenal dengan julukan "the professor" ketika memanejeri Arsenal selama 22 tahun. Ia tiba di Arsenal pada 1 Oktober 1996 dan sejak itu hidupnya tidak pernah lagi sama sampai ia berhenti pada 6 Mei 2018. 

Begitu pula penampilan Arsenal, tak pernah sama lagi. Sebelum Wenger datang, tim ini hanya mementingkan hasil akhir, tentang menciptakan gol, menjaga dan mempertahankan di sisa waktu. Arsene Wenger mengubah gaya bermain, dengan konstruktif game berdasarkan kekuatan teknik tinggi yang solid sekaligus menghibur fans.

Wenger merevolusi tim sampai akar-akarnya. Menguatkan struktur klub dari tiga nilai fundamental: bersatu, bertindak dengan berkelas, dan bergerak maju. Dalam sepak bola, selama pertandingan, ada jutaan kombinasi kemungkinan, dan bergantung pada tiga kriteria: kontrol bola, pembuatan keputusan, dan kualitas eksekusi.

Wenger seorang perfeksionis, sangat memperhatikan sesuatu hingga detail terkecil. Training center yang canggih, dokter yang mengurus neuroscience dan nutrisi, psikolog yang membangun mental, kesemuanya memungkinkan Wenger mengandalkan performa objektif dari alat analisis terukur dan terpercaya. 

Bersama Gunners, Wenger memberikan segalanya. Waktu, energi, dan passion. Highbury, markas lama Arsenal, dan Emirates Stadium sudah seperti rumahnya (A life at Arsenal, My Home).

Wenger memimpin Arsenal 823 games premier league, dengan 473 kemenangan, 199 draw, dan 151 kalah. Sebagai perbandingan Alex Ferguson 810 games dengan 528 wins, 168 draw, dan 114 kalah. Wenger mengenang sangat menikmati rivalitasnya dengan Alex Ferguson, manajer legendaris Manchester United. Rivalitas klasik, banyak clash, kemarahan, dan penuh hormat setelahnya. Fergie bersedia mati untuk MU dan begitu juga saya untuk Arsenal, tulis Wenger. 

Rivalitas 16 tahun yang aktif itu membuat Liga Inggris berkembang sangat cepat sebagai liga terbaik dunia. Bayangkan sepak bola Inggris jika tak ada Wenger, Ferguson akan mendominasi mutlak seperti Bayern Munchen di Jerman.

Turning point Wenger terjadi pada 14 Maret 1998 di Old Trafford, ketika Arsenal mengalahkan United lewat gol Marc Overmars yang melapangkan jalan menuju juara pada 1998, titel pertama Wenger. Kemenangan bersejarah itu sebagai pernyataan tegas bahwa mereka siap bertarung ketat dengan United yang telah empat kali juara premeiership.

Wenger membawa Arsenal menumbangkan hegemoni United sebanyak tiga musim, yakni 1998, 2002, dan 2004. Begitu juga pada kemenangan 2002, klub London utara ini memastikan juara dengan elegan di Old Trafford yang angker, mamaksa Ferguson dan fans United memberikan selamat kepada Wenger dan skuadnya yang hebat.

Trofi Wenger yang paling terkenal dan belum bisa disamai adalah invicibles 2004, Wenger's masterpieceSkuad Arsenal 2003/2004 adalah tim yang menyatu, berpengalaman, top form, powerful, dan mental positif. Pemain tua yang mencintai kompetisi dipadu dengan pemain-pemain muda yang solid.

Wenger berbagi semua pengalamannya tentang di Arsenal. Cerita-cerita seru bagaimana ia mendatangkan pemain. Dari kepindahan bek Sol Cambell dari Tottenham Hotspurs yang menghebohkan bursa transfer 2001, mendatangkan Thiery Henry yang melempem di Juventus, atau instingnya pada Fredrick Ljunberg yang ia tonton hanya dari televisi.

Buku ini memberikan wawasan luas tentang persaingan sepak bola. Menjelaskan juga mengapa Wenger gagal pada 1999 dan 2003, yang seharusnya membuatnya bisa lima kali juara? Mengapa Wenger tidak pernah memenangkan Liga Champions? Mengapa ia harus berhemat demi pembangunan Stadion Emirates? 

Merci, Arsene !!!




















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumbo: Dongeng Kesatria dari Kampung Seruni

Kenangan di Prambanan Jazz

Review Enlightenment Now: Kehidupan Menjadi Lebih Baik