Tidak Ada Italia di Piala Dunia

Sepak bola Italia dibangun dari tradisi panjang dipadu ambisi besar membuat sepak bola Italia selalu diwarnai rivalitas yang penuh drama, banyak teka-teki, sarat tendensi, dan bahkan mafia.

Di sana sepak bola adalah metafora kehidupan, sebuah permainan yang harus dituntut menang apa pun caranya. Setiap pemain memainkan perannya dengan "baik". Ciri khas paling dikenal dari sepak bola Italia adalah kesederhanaan, yakni konservatif dalam bertahan. Pecinta sepakbola kemudian menyebut Cattenacio.

Saya bagian generasi milenial, rasanya sulit meneriman fakta Italia tidak ikut Piala Dunia untuk ketiga kali secara beruntun (2018, 2022, dan 2026). Kita tumbuh dari tayangan Liga Italia di TVRI dan RCTI. 

Lega Calcio kompetisi terbaik di Eropa kala itu. Kumpulan pemain terhebat dan termahal bersaing di klub Juventus, AC Milan, dan Inter Milan. Banyak yang bilang persaingan Seri-A jauh lebih sangar daripada persaingan di kompetisi Eropa.

Rivalitas klub sekota AC Milan dengan Inter Milan sudah terpolarisasi melampaui batas lintas antar negara. Ketika turnamen akbar seperti Euro dan Piala Dunia digelar, tifosi Milan hampir pasti memilih Italia dan Belanda. Sedangkan Interisti menjagokan Italia dan Jerman. 

Seri-A menciptakan tim nasional Italia yang tangguh sejak lama. Gri Azzuri selalu berhasil membentuk kesebelasan yang tangguh dan padu. Italia selalu ditempatkan di pot-1 sebagai wujud tim unggulan utama yang siap mengangkat trofi.

Sejarah menunjukkan betapa tim sepak bola Italia tak pernah putus melahirkan pemain hebat. Roberto Baggio, Franco Baresi, Paolo Maldini, Alessandro Del Piero, Fabio Cannavaro, Francesco Totti, dan Andrea Pirlo, adalah legenda layaknya master, mereka seniman lapangan hijau. 

Italia adalah negara dengan tradisi panjang, pertandingan-pertandingan Piala Dunia yang pernah dijalani Italia selalu diingat, kontroversial, bahkan berbau skandal. Generasi sebelum kita selalu mengenang laga Italia vs Jerman (Barat) di semifinal Meksiko 1970, atau final Piala Dunia 1982 ketika Italia kembali menjungkalkan Jerman dengan benteng pertahanan yang dikomandoi Claudio Gentile. 

Publik pun masih ingat ketika Italia berstatus tuan rumah dan favorit utama pada 1990, secara tragis disingkirkan Argentina yang dipimpin mega-bintang Diego Maradona di semifinal di kota Naples. Empat tahun kemudian di AS 199494 penalti gagal Roberto Baggio seakan menghapus semua prestasi yang sudah ditorehkan "si kuncir".

Laga perdelapan final melawan Korsel 2002 juga kontroversial dan masih didebat. Wasit Byron Moreno dan Ahn Jung Hwan yang bermain untuk Perugia menjadi musuh besar publik Italia. Terakhir barangkali ada pertandingan terbaik di Piala Dunia 2006 antara Jerman vs Italia di babak semifinal. Lagi-lagi Italia mengalahkan Jerman lewat pertandingan menggetarkan. Di tanah Bavaria ini, Cannavaro cs meniti jalan pedang yang mengasilkan trofi Piala Dunia ke-4. 

Negeri Pizza ini juga tempat lahirnya pelatih-pelatih kelas wahid. Angelo Vucini, Arrigo Sacci, Cesare Maldini, Dino Zoff, Giovani Trappatoni, Marcelo Lipp, dan Cesare Prandelli, merupakan deretan allenatore dengan berbagai hasil. Puncaknya terjadi di Jerman 2006, Lippi membawa Italia meraih gelar ke-4. Justru saat itu sepakbola Italia dilanda skandal korupsi dan pengaturan hasil pertandingan.

Sejelek apa pun pencapaian Italia, seperti di Piala Dunia 2010 dan 2014, tak ada yang lebih buruk daripada skuad Italia 2017 hingga 2026. Gian Piero Ventura gagal ke Piala Dunia 2018 di Russia, Roberto Mancini di Piala Dunia 2022, dan kini Gennaro Gattuso. Inilah tragedi bagi Italia, berada dalam kegelapan.

Senang atau tidak senang Italia akan sangat dirindukan. Wajah rupawan, model potongan rambut, dan jersey keren pemain Italia selalu menarik perhatian. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumbo: Dongeng Kesatria dari Kampung Seruni

Kenangan di Prambanan Jazz

Review Enlightenment Now: Kehidupan Menjadi Lebih Baik