Belanda Kehilangan Identitas "Total Football"
Penampilan Belanda selalu dinantikan di setiap turnamen Piala Dunia dan Piala Eropa. Semuanya bermula pada tahun 1974.
Pada Piala Dunia 1974 di Jerman Barat, Belanda yang diarsiteki Rinus Michels dan dipimpin Johan Cryuff menampilkan permainan sepakbola super agresif yang sangat memukau penggemar sepakbola. Sayang di pertandingan final entah bagaimana mereka bisa kalah dari Jerman Barat dengan skor 1-2.
Taktik yang kemudian terkenal dengan total football tersebut membawa The Orange melibas lawan-lawan kuat dengan permainan aktraktif yang tidak pernah dimainkan sebelumnya. Total football tak hanya menekankan soal kemenangan, tapi juga cara meraihnya. Cruyff tak ingin menang dengan cara biasa-biasa saja, melainkan ingin kemenangan dengan gaya bermain indah dan menghibur. Ia tak ingin menghianati penonton.
Hal paling revolusioner dari pendekatan Cruyff adalah tak lagi mengandalkan pemain dengan postur tinggi dan kuat, tapi anak-anak muda dengan kecerdikan, teknik, dan kemampuan untuk mengatur permainan.
Pundit dan jurnalis Spanyol di serial Becoming Champions berjudul "Spanyol, Metamorfosis", menjelaskan bahwa sepakbola Spanyol berutang banyak pada Belanda, pada Johan Cruyff yang merevolusi gaya dan pendekatan pemain Spanyol, terutama klub Barcelona pada periode kepelatihan 1988-1996. Nilai warisan Cruyff melebihi trofi-trofi yang diraih Barcelona, yakni filosofis dan identitas. Joseph Guardiola merupakan anak ideologis Cruyff paling jenius menyempurnakan visi total footbal.
Ketika Cryuff pensiun, kiprah timnas Belanda dilanjutkan dengan pemain-pemain kelas dunia. Trio terkenal Marco Van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkard membawa Belanda juara Piala Eropa 1988 yang juga dilaksanakan di Jerman, dan pelatihnya masih Michels. Belanda menumbangkan tuan rumah di semifinal dan mengalahkan Uni Soviet di partai puncak dengan skor 2-0. Salah satu gol dicetak Van Basten dari tendangan voli spektakuler, sehingga gol tersebut selalu dipilih sebagai gol terbaik Euro sepanjang masa.
Sudah lebih setengah abad tapi publik masih selalu mengenang dan membahas total football dan variasinya. Saya belum lahir saat momen 1974, dan belum menyaksikan momen 1988 di mana satu-satunya trofi yang pernah dimenangkan oleh Belanda.
Saya masih mengingat pertama kali menonton Belanda di Piala Eropa 1992 di Swedia. Belanda sebagai juara bertahan dan sangat difavoritkan secara mengejutkan kalah melalui adu penalti dari Denmark yang kemudian menjadi juara. Tendangan penalti Van Basten ketika itu ditepis Peter Schemeichel.
Di Piala Dunia 1994, Belanda terhenti di perempatfinal setelah disingkirkan Brasil 2-3 melalui pertandingan menegangkan di Dallas, AS. Mungkin sejak itu, saya selalu memfavoritkan Belanda di setiap turnamen Piala Dunia dan Euro.
Ada beberapa kesempatan mereka sangat dekat dengan gelar juara, seperti Piala Dunia 1998 Perancis tempat gol ikonik Dennis Berkamp, Euro 2000 saat menjadi tuan rumah, dan Piala Dunia 2010 ketika mereka takluk di final oleh Spanyol. Kegagalan ketiga di final Piala Dunia. Belanda pernah gagal di kualifikasi Piala Dunia 2002, Euro 2016, dan Piala Dunia 2018, menodai predikat sebagai negara elite sepakbola.
Di Piala Dunia 2026 Belanda dilatih Ronald Koeman, yang merupakan bagian skuad juara 1988, juga banyak pengalaman melatih klub, awalnya dipercaya mampu mengantar kejayaan Belanda lewat permainan khas total football.
Ternyata Belanda menampilkan permainan yang buruk dan mengecewakan selama turnamen. Lebih dari itu, Belanda bermain dengan strategi super defensif kala bertemu Maroko di babak 32 besar. Koeman tidak berani meladeni permainan agresfif "Singa Atlas".
Di Stadion BBV Montererrey, Kanada, pada Senin 29 Juni 2029 lalu, tim Belanda tidak hanya kalah dari Maroko melalui drama adu penalti, namun mereka tersingkir dari turnamen dengan sangat memalukan.
Taktik bertahan Koeman langsung mendapat kritik keras dari para legenda, media, dan fans. Kekalahan mungkin bisa dimaafkan, tapi menghiananti filosofi dan identitas sepakbola Belanda yang sudah mendarah daging adalah dosa yang sangat berat.
Belanda harus kembali dan selalu percaya pada identitas total footbal.

Komentar
Posting Komentar