Jerman Bukan Lagi Jerman yang Dulu
Kejutan besar pertama di Piala Dunia 2026 tercipta ketika Jerman tersingkir lebih awal, di babak 32 besar setelah dikalahkan Paraguay melalui drama adu penalti 3-4 (1-1).
Bertanding di Stadion Gillete, Foxborough, Boston, AS, Jerman yang dilatih pelatih muda Julian Nagelsmann menurunkan format 4-2-3-1, dengan striker tunggal Kay Harvetz di depan Leroy Sane, Deniz Undav, dan Florian Writz.
Adapun Gustavo Alfaro pelatih Paraguay memilih pos 4-5-1 yang cenderung defensif. Jerman memang mengendalikan permainan di babak pertama, tetapi tetap tidak efektif mendobrak pertahanan ketat Paraguay yang dikomandoi Gustavo Gomes di depan kiper Orlandi Gill. Jerman kesulitan menciptakan peluang bagus.
Sesaat sebelum jeda justru Der Panser dikejutkan dengan gol yang pemain sayap Paraguay, Julio Ensico. Bermula dari sepak pojok yang dihalau pertahanan Jerman namun bola dapat direbut Miguel Almiron dan menoper ke Matias Galarza. Dengan bagus Galarza mengirim umpan silang ke area penalti, di mana Enciso melakukan lari tepat waktu dan menyundul bola masuk ke gawang yang dijaga kiper senior Manuel Neuer.
Di babak kedua, Jerman sedikit membaik dan berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-54 melalui sundulan Havertz. Namun mereka tidak bisa membangun momen tersebut untuk membalikkan keadaan. La Albiroja, memilih tetap bertahan dan akhirnya memaksa perpanjangan waktu. Jerman sempat merayakan gol kemenangan yang dicetak Jonathan Tah dari tendangan sudut, tapi setelah meninjau monitor VAR, wasit Jalad Jayed menganulirnya karena ada pelanggaran terhadap kiper Gill.
Pertandingan pun dilanjutkan ke adu penalti. Dari catatan sejarah, Jerman sudah lima kali memainkan adu penalti di Piala Dunia, dan memenangkan semuanya. Mental Jerman selalu mantap jika terpaksa adu penalti.
Namun kali ini tiga eksekutor yakni Haverz, Nick Woltemade, dan Tah gagal melaksanakan tugas dengan baik. Jerman menyerah 3-4 secara dramatis. Mereka akhirnya merasakan bagaimana pahitnya kalah dengan cara seperti ini.
Terlepas dari kalah adu penalti, Jerman pantas gagal di turnamen ini, sejak awal bahkan masa persiapan, mereka kurang meyakinkan, sesuatu yang tak lazim jika kita mengenal karakter Jerman yang selalu penuh antisipasi.
Penampilan mereka sepanjang turnamen mengecewakan. Pada laga pertama Joshua Kimmich dkk memang sukses membantai Cuaracao, tim debutan, dengan skor 7-1. Namun pada match-2 performa mereka menurun walau masih beruntung bisa menang 2-1 atas Pantai Gading. Semakin kacau saat mereka dikalahkan Ekuador 2-1 di match-3, walau sudah menggengam tiket ke fase gugur.
Ada apa dengan Jerman?
Jerman dulu dikenal sebagai tim spesialis turnamen. Delapan kali tampil di final Piala Dunia dan empat kali memenangkannya (1954, 1974, 1990, dan 2014) merupakan bukti yang tak bisa dibantah.
Semua sudah tahu kalau Jerman memang jaminan mutu satu tim. Cara mereka menggilas lawan begitu sistematis dan dingin. Die Mannschaft adalah simbol kemapanan dunia sepakbola modern.
Tidak ada negara lain yang memainkan sepakbola serapih, sekreatif, seefektif, dan mematikan seperti yang ditampilkan skuad Jerman yang hebat. Mereka bermain stabil dan solid sebagai sebuah tim. Jika Brasil dan Argentina selalu disebut punya pemain terbaik di dunia, maka Jerman punya tim terbaik.
Namun predikat tersebut sudah pudar jika melihat pencapaian mereka pada turnamen besar dalam satu dekade terakhir. Sejak Piala Eropa 2016, mereka tidak pernah lagi melaju sampai semifinal. Dua kali beruntun pada di Rusisia 2018 sebagai juara bertahan, dan di Qatar 2022, Jerman tersingkir secara memalukan di fase grup. Dan sekarang terpental dari Paraguay di babak 32 besar.
Pada ajang Euro 2020 Jerman kandas di babak perdelapan final, dan di Euro 2024 ketika sebagai tuan rumah, mereka terhenti di perempat final setelah dikalahkan Spanyol, yang kemudian memenangkan gelar.
Pada kesimpulannya memang begitu banyak yang tidak beres di sepak bola Jerman saat ini, mereka perlu mencari solusi untuk mengembalikan nama besar Jerman yang sangat disegani di persaingan sepakbola dunia.
Salam Piala Dunia.

Komentar
Posting Komentar