Sherina dan Sadam Setelah 23 Tahun

dokumen pribadi

Ya, setelah 23 tahun Sherina Darmawan dan Sadam Ardiwilaga kembali menghibur kita pecinta sinema tanah air.

Saya masih ingat menonton Petualangan Sherina pada 2000 di Bioskop Mataram Yogyakarta. Jika tidak lupa harga tiketnya empat ribu rupiah. Saya sedang berkuliah semester awal kala itu diajak nobar oleh ibu kos. Momen itu adalah pengalaman menyenangkan.

23 tahun adalah waktu yang lama sekali. Banyak fase perjalanan hidup pada rentang itu, kuliah selesai, bekerja, menikah, dan bertumbuh bersama anak-anak, yang kami ajak untuk nonton sekuel Petualangan Sherina.

Petualangan Sherina barangkali film Indonesia pertama yang saya tonton di bioskop. Film istimewa karena berhasil membangkitkan dunia perfilman yang lama mati suri karena masyarakat Indonesia saat itu mulai mengakses stasiun televisi swasta dilanda euforia sinetron layar kaca. Orang berpikir seribu kali mengeluarkan uang untuk membayar tiket bioskop.

Ceritanya sederhana, tapi film ini digarap dengan sangat baik, dari skenario, sinematografi, dan akting para pemeran duet Sherina Munaf-Derbi Romero, Didi Petet, Ratna Riantiarno, Mathias Muchus, Dewi Hughes, Butet Kertarajasa, Jaduk Ferianto, Henidar Amroe, Yadi Timo, dan sebagainya. Entah sudah berapa kali saya mengulang film ini, baik di stasiun televisi yang diganggu iklan maupun di jaringan platform seperti Netflix.

Sherina adalah anak tungal dari pasangan Darmawan agronomi dari IPB, dengan Suci penyanyi sekaligus penulis lagu. Keluarga Darmawan harus pindah dari Jakarta ke Lembang untuk mengurus lahan perkebunan milik keluarga Ardiwilaga (Didi Petet), orang tua Sadam. Sherina gundah karena meninggalkan teman-teman karibnya, yang sering bermain petak umpet, kartu remi, baca komik, belum mengenal handphone. Dunia anak yang menyenangkan pada akhir abad 20.

Lahan subur perkebunan Ardiwilaga sudah lama menghidupi banyak petani dan keluarga di sekitarnya. Namun mendadak terancam karena ingin dibeli secara paksa pengusaha properti yang berencana membangun villa-villa mewah di sana. Lahan sengaja dirusak secara kasar, supaya Ardiwilaga bersedia menjualnya kepada Kertarajasa (Jaduk Ferianto) yang demi ambisinya menghalalkan segala cara.

Tidak berhasil dengan beberapa kali usaha, Kertarajasa memerintah anak buahnya Natasha (Henidar Amroe) dan Raden (Butet Kertarajasa) menculik Sadam yang sedang berpetualang bersama Sherina. Pembebasan Sadam wajib ditebus senilai tiga miliar rupiah dan itu nyaris berhasil memaksa Ardiwilaga melepas perkebunan.

Petualangan Sherina membuat saya mengenal duo Riri Riza dan Mira Lesmana, kemudian menggemari karya-karya mereka selanjutnya, seperti Gie dan Untuk Rena pada 2005, 3 Hari untuk Selamanya (2007), Laskar Pelangi (2008), Sang Pemimpi (2009), Ada Apa dengan Cinta 2 dan Athirah (2016), Kulari ke Pantai (2018), Bebas (2019) dan Humba Dreams (2020).

Selain Petualangan Sherina, Untuk Rena, Laskar Pelangi, dan Kulari ke Pantai, adalah film segmen anak yang diproduksi Miles dengan baik dan sukses di pasar.

Ketika mendengar Petualangan Sherina 2 akan diproduksi dan rilis pada 28 September 2023 lalu, sesungguhya saya tidak terlalu semangat. Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya Petualangan Sherina akan bersambung.

Saya termasuk tidak menggemari film sekuel. Biasanya sekuel digarap dengan tujuan utama meraup untung karena ini barang yang bakal laku di pasaran, namun itu bisa juga mengikis idealisme dan kreativitas para sineas. Bukankah masih banyak ide-ide dan cerita yang layak diangkat.

Pengalaman panjang membuktikan, saya tidak pernah merasa ada film sekuel lebih bagus dari film pertamanya. Termasuk saat Riri-Mira membuat sekuel Ada Apa dengan Cinta 2 pada 2016 setelah meledak 14 tahun sebelumnya. Meskipun masih bagus, namun belum sedahsyat film pertama. Kenikmatannya pasti berkurang, seperti minum air es gelas pertama itu lebih nikmat daripada gelas kedua dan seterusnya. Hukum kepuasan total dan kepuasaan marjinal.

Oleh karena itu, bersama keluarga saya menyambangi Bioskop XXI Mall Ratu Indah, Makassar, pada Sabtu 7 Oktober 2023 lalu, dengan pendekatan berbeda dan menurunkan ekspektasi. Saya yakin Petualangan Sherina 2 ini tidak mengecewakan meski tidak sebagus edisi pertamanya.

Formula dan tempo cerita senada dengan film pertama, dibuka dengan theme song yang riang seraya mengenalkan profesi Sherina sebagai jurnalis Nex-TV yang ambisius, yang kecewa batal meliput World Ecomic Forum di pegunungan salju Davoss, Swiss. Ia tiba-tiba ditugaskan ke belantara hutan Kalimantan untuk meliput konservasi pelepasan orangutan ke hutan liar.

Sadam yang sudah melekat sebagai anak mami yang manja, tidak diduga bekerja sebagai manajer kegiatan konservasi orangutan di Kalimantan (Oukal) yang akan diliput Sherina. Pertemuan mereka di kamp mirip saat 23 tahun lalu di rumah Sadam, di mana Sherina sedang makan donat dan kaget melihat Sadam di depannya, kemudian mengucapkan "Ah Yayang?", Yayang adalah nama manja Sadam.

Jika sebelumnya mereka berdua yang diculik oleh kelompok penjahat, kali ini mereka mati-matian menyelamatkan anak orangutan bernama Sayu yang dicuri kawanan pencuri satwa langka. Jika film pertama peran antagonis diperankan dengan baik oleh Jaduk, Butet, dan Henidar, kini kelompok penjahatnya adalah pasangan Ratih (Isyana Sarasvati) dan Syailendra (Chandra Satria), Dedi (Randy Danistha), dan Pingkan (Kelly Tandiono), kawanan perburan liar satwa langka. Munculnya tokoh Sindai (Quin Salman) sebagai anak hutan penjaga satwa langka juga unsur kejutan, walaupun tidak dijelaskan asal-usulnya.

Fokus saya bukan alur ceritanya yang mudah ditebak,  tapi saya menantikan deretan lagu soundtrack film yang dinyanyikan dengan keren oleh Sherina dan Derby, disertai tari dengan koreografi indah yang mampu menghibur sebagaimana dulu seperti lagu Jagoan, Lihatlah Lebih Dekat, dan Menikmati Hari menemani waktu kita. Sherina sendiri sebagai penata musiknya menggantikan Elfa Secoria dan mendiang Jaduk Ferianto pada film pertama.

Saya pun suka cara Riri mengeksekusi skenario dengan sinematografi yang menghadirkan gambar-gambar pesona alam Kalimantan seperti belantara hutan dengan aneka satwa langka, Sungai Kahayan dengan jembatan merah putih yang megah, dan sudut-sudut kota Palangkaraya. Ciri khas film-film Miles yang mengesplorasi pesona alam Indonesia.

Petualangan Sherina 2 jelas tidak mengecewakan, tontonan menghibur yang menghangatkan keluarga, dan kita generasi yang mengikutinya seperti bernostalgia mengingat kembali perjalanan waktu 23 tahun, apa saja yang kita sudah lakukan?

Alangkah cepatnya waktu berlalu.














Komentar

Postingan populer dari blog ini

Naik Kereta Api Surabaya ke Jogja

Mencermati Teori Werner Menski: Triangular Concept of Legal Pluralism

Perjalanan Seru dari Makassar ke Jogja