Postingan

Pelayanan Prima di Ibukota

Gambar
Cerita ini tentang pengalaman kecil saya sebagai warga Makassar, menilai Jakarta ibukota negara tercinta.  Waktu itu sekitar tahun 2013 berada di Jakarta selama 10 hari, terpanjang. B iasanya paling tahan 3 hari di sana. Itu juga kali pertama  saya ke Jakarta berstatus sebagai suami sekaligus sebagai ayah. Jadi judulnya: perjalanan pertama kami  sebagai keluarga kecil. Singkat cerita, kami larut dalam hiruk pikuk kehidupan dinamis Jakarta. Setiap hari, karena banyaknya agenda yang sudah dibuat, kami tentu berangkat pagi-pagi dan akhirnya pulang ke rumah selalu di atas pukul 10 malam. Berulang terus hingga hari terakhir. Capek memang tapi juga senang. **** Bukan masalah kemacetan akut, bukan pula tentang melimpahnya jutaan manusia dan segala kesibukannya di Jakarta, yang ingin saya bahas di sini. Meski saya sempat berpikir bagaimana bisa Gubernur DKI (saat itu Joko Widodo) menata ibukota yang sudah sedemikian kompleks.  Bagaimana dan dari mana mereka memulainya saja, ...

Gengster Squad: Kisah Tim Polisi Memerangi Mafia

Gambar
Film cukup lawas yang rilis pada 2013 yang saya tonton kembali di platform Netflix. “Kamu akan dibunuh oleh Mickey!”  “Mickey Mouse?“ Mungkin percakapan di atas satu-satunya adegan film yang dapat membuat seisi penonton di bioskop tertawa. Selebihnya, kita akan dibombardir dengan tindak kejahatan gengster yang begitu digdaya di kota Los  Angeles, sekitar tahun 1940-1950-an. Gengster pimpinan itu ada pada sosok Mickey Cohen, bukan Mickey Mouse. Cohen (diperankan Sean  Penn) adalah bos maha kuasa di kota hiburan LA pada masa itu. Kepala institusi-instusi tak punya  wewenang melebihi Cohen. Polisi, politisi, hakim, pejabat kota selalu dapat didikte Cohen dengan suap. Cohen, laki-laki Yahudi ambisius. Mengendalikan bisnis narkotika, prostitusi, hiburan dan sebagainya  dengan cara paling kejam yang mungkin bisa dilakukan seorang penjahat. Benar-benar menggunakan  kebengisan seorang kelompok bandit.  Anah buah yang gagal melaksanakan perintahnya, tak akan...

Bola Klasik: PSM vs Bali United 2017

Gambar
Kehidupan selalu berubah, tak ada keraguan. Masih terasa euforia dirgahayu PSM ke-102 pada 2 November 2017. Perayaan meriah yang momennya bersamaan dengan harapan besar mendapatkan kado istimewa: Juara Liga-1 2017. Sudah 17 tahun kita menantikan itu. Pesta yang lebih besar nampaknya sudah disiapkan. Saya pun sudah membayangkan kota Makassar akan menjadi lautan manusia berbaju merah berpawai mengarak trofi, bakal lebih ramai dari parade saat PSM juara kompetisi kasta tertinggi pada 1992 dan 2000. PSM bagi kami warga Makassar, bukan hanya sekadar klub sepakbola. PSM adalah simbol pemersatu, sarana perjuangan, wadah sosial warga masyarakat meluapkan ekspresi guna mencari hiburan tanpa sekat. PSM adalah jeda sejenak dari kota yang bernafsu berlari kencang. Kita bisa saling tak mengenal tapi saat berbicara PSM mata kita semua berbinar.   Apa bukti? Jika PSM menang pada malam hari, besok paginya cobalah pergi menawar ikan di Pelelangan Ikan Paotere atau belanja sembako di Pasar Tero...

Cerita Suporter PSM Makassar (2)

Gambar
Kampiun di Milenium Baru Baru saat memasuki milenium, PSM kembali menjadi tim yang solid. Nurdin Halid balik kandang. Pemain asing dan pemain nasional terbaik dikontrak dan digaji tinggi. De Melo, Kurniawan ‘Kurus’, Bima Sakti, Miro Baldo Bento, dan Aji Santoso, adalah nama-nama terbaik saat itu. Pelatihnya pun tak tanggung-tanggung: Henk Wullems, Si- Menir dari Belanda. Pokoknya gelar juara harga mati, tak boleh lepas lagi, titik. Selain PSM, Persija dengan dana berlimpah juga difavoritkan. Dan setelah mengarungi penyisihan yang panjang, PSM dan Persija harus bertemu di semifinal, bukan di final yang lebih pas dan ideal. Untung saja ‘Ayam Jantan Timur’ bisa menang tipis atas ‘Macan Kemayoran’, berkat gol tunggal Baldo Bento. Musuh di final adalah Pupuk Kaltim, yang diperkuat pemain kawakan nasional, jenderal lapangan, Fachri Husaini. Hasil akhir PSM menang 3-2, dan akhirnya menjadi juara. Klub pertama di luar pulau Jawa yang sukses. Prestasi tertinggi PSM ini semakin mengilap dengan ...

Cerita Suporter PSM Makassar (1)

Gambar
Koran Kompas , pernah menulis cerita suporter fanatik PSM, Dg Uki, dengan judul: '(Nama) Anakku, Jayalah PSM Reski Ilahi’. **** Sebagai wujud cinta, bangga, dan penghormatan, kepada PSM Makassar, klub kebanggan yang telah berusia 105 tahun pada 2 November 2020, sudah lama saya ingin mengabadikan dengan menuliskan banyak kenangan selama menjadi suporter PSM. Meski harus saya akui, tak semilitan dan ‘segila’ beberapa suporter PSM lain. Ukuran ‘gila dan militan’ suporter PSM relatif mudah ditakar. Yakni mereka yang rajin mendukung langsung PSM, meski bermain tandang. Paling istimewa ketika PSM bertanding di GBK (Senayan) di babak akhir kompetisi, maka kelompok suporter fanatik PSM mengarungi lautan selama dua hari menuju ibukota. Sampai sekarang saya masih kerap 'iri' dengan barisan suporter semacam mereka. Menurut persepsi pribadi, hanya ada empat suporter klub sepak bola nasional paling fanatik, paling tradisional mengakar, dan paling ‘gila’. Yakni suporter klub PSMS Medan, ...