Jepang Patah Hati Lagi di Texas

Saya merasa pertandingan Jepang melawan Brasil akan menjadi pertandingan paling menarik di Round of 32 karena banyak alasan.

Brasil adalah negara tradisi sepakbola yang kuat dengan kehebatan individu pemain kelas dunia seperti Vinicius Jr, Neymar, Casemiro, Marquinos, yang baru pertama kali dilatih pelatih non Brasil, yakni Carlo Ancelotti dari Italia. Mereka berpeluang menjadi juara Piala Dunia untuk keenam kali.

Sementara Jepang menegaskan dirinya sebagai tim terkuat di Asia dan telah selevel dengan para raksasa sepakbola dunia. Skuad Jepang kali ini dianggap sebagai skuad terkuat sepanjang masa, meski mereka kehilangan beberapa pilar. Mereka sangat fasih bermain tiki-taka untuk menembus pertahanan terkuat sekalipun. Jepang menunjukkan ketahanan yang sama beberapa hari lalu, ketika mereka dua kali tertinggal dari Belanda dan dua kali pula berhasil menyamakan kedudukan. Mereka tak terkalahkan di turnamen ini.

Jika pertemuan pertama kedua tim di Piala Dunia pada 2006, Brasil mengalahkan Jepang begitu mudah dengan skor 4-1, kali ini Brasil pasti menyadari Jepang adalah lawan yang sangat kuat dan punya peluang sama untuk menang. Jepang benar-benar bisa menyingkirkan Brasil dari turnamen.

****

Brasil mengenakan seragam kuning klasik, dengan Ancelotti memasang formasi 4-3-3, mempertahankan tim yang sudah memenangkan Grup. Sementara Jepang mengenakan seragam putih dengan celana pendek hitam, dengan Moriyasu menggunakan 3-4-2-1 dengan beberapa perubahan.

Usai setengah jam saling mengintai, Jepang mengejutkan Brasil dari gol Kaishu Sano pada menit ke-29. 

Berawal serangan Brasil perebutan bola di lini tengah, tetapi kemudian, tiba-tiba, Sano mencuri dan melesat. Dia melewati Casemiro dan melepaskan tembakan kaki kanan ke sudut jauh yang tidak bisa dijangkau Allison Becker. 

Brasil harus bereaksi dan mereka menaikkan agresevitas melalui Vini, Lucas Paqueta, dan Matheus Cunha. Tapi pertahanan Jepang yang dipimpin Taniguchi sangat rapat dan sulit ditembus. Vini sangat kesulitan mendapatkan ruang untuk menciptakan peluang. Sampai selesai babak pertama Jepang mempertahankan keunggulan tanpa kesulitan berarti, pertahanan mereka luar biasa.

Ancelotti melakukan pergantian, memasukkan Endrik dan menarik Paqueta. Ia tidak menarik Casemiro yang bermain buruk pada babak pertama. Perjudian Ancelotti dinantikan. Brasil tampil lebih menyerang.

Momen terjadi pada menit ke-53 ketika sundulan jarak dekat Casemiro yang secara ajaib bisa digagalkan tepat di garis gawang, kemudian menjadi serangan balik yang hampir menggandakan keunggulan.

Dua menit kemudian Casemiro akhirnya menebus semua peluangnya dengan mencipatkan gol penyeimbang dari sundulan hasil umpan Gabriel Maghalaes. 1-1, pertandingan semakin menegangkan.

Setelah itu Ancelotti mengganti Cunha untuk Gabriel Martinelli. Jepang juga melakukan pergantian dua bek sayap, mungkin untuk meredam Vini dan Martinelli. Taktik Ancelotti mulai menunjukkan keunggulan Brasil di babak kedua.

Ketika pertandingan sepertinya akan berlanjut ke extra-time bahkan adu penalti, rangkaian serangan Brasil menciptakan gol penentu kemenangan pada menit ke-96.

Striker Martinelli berada di antara lini di sisi kiri dalam. Dia menerima umpan yang bagus dari Guimares, melakukan kontrol yang bagus, dan melepaskan tendangan ke tiang jauh, 2-1 untuk Brasil. Fans Brasil yang mendominasi stadion bergemuruh menyambut gol yang membawa Brasil melaju ke babak 16 besar secara dramatis.

Pada akhirnya Jepang memulai dengan sangat baik tapi kehilangan tenaga, dan Brasil lewat ketenagan dan intuisi Ancelotti bangkit dan memenangkan pertandingan yang benar-benar menegangkan.

Patah hati bagi "Samurai Biru" dan 125 juta orang Jepang. Mereka sudah menjadi langganan tim babak gugur Piala Dunia. Hal ini pertama kali terjadi pada 2002 saat menjadi tuan rumah bersama Korea Selatan, kalah 0-1 dari Turki. Pada Piala Dunia 2010, mereka kalah adu penalti dari Paraguay. Hal yang sama terjadi pada 2018 di mana mereka sempat unggul 2-0 atas Belgia sebelum dibalikkan dalam 15 menit akhir, dan terulang lagi di Qatar 2022 ketika disingkirkan Kroasia lewat adu penalti setelah unggul lebih dulu.

Dalam lima momen mereka selalu mundur dan kehilangan "sentuhan akhir". Sekali lagi penderitaan itu terjadi lagi di Stadion NRG, Houston, Texas, AS, pada Senin 29 Juni 2026 tadi ketika mereka dikalahkan secara dramatis oleh Brasil.



















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konser Parade Hujan di Stadium Merdeka (7)

Drama Lima Babak Perundingan Aceh di Helsinki (16)

Kenangan di Prambanan Jazz