Aljazair Vs Austria: Dendam Gijon 1982 Bertemu di Kansas 2026

Segala sesuatu yang terjadi di dunia terhubung dengan sejarah dan apa yang telah terjadi sebelumnya. Begitu juga dengan ajang Piala Dunia yang telah berlangsung hampir 100 tahun.

Pada tahun 1982 Piala Dunia dilaksanakan di Spanyol. Aljazair adalah negara yang belum lama merdeka dari koloni Perancis selama 132 tahun. Piala Dunia merupakan ajang paling berharga bagi Aljazair untuk memperkenalkan diri ke panggung global. Mereka bergabung di Grup-2 bersama Jerman Barat, Austria, dan Chile.

Aljazair membuat kejutan besar pada laga perdana dengan mengalahkan Jerman Barat yang merupakan Juara Eropa dengan skor 2-1. Sedangkan Austria menang 1-0 atas Chile. Di match-2, Aljazair kalah dari Austria 0-2, dan Jerbar menang 4-1 atas Chile. Pada pertandingan ketiga Aljazair bertanding sehari lebih dulu melawan Chile dan menang 3-2. Total Aljazair meraih 4 poin (masih menggunakan format 2 poin untuk kemenangan) hasil 2 kali menang dan satu kali kalah, dengan selisi gol 0 (5-5).

Besoknya pada 25 Juni 1982, laga Jerbar melawan Austria di Estadio El Malinon Gijon, menjadi penentuan siapa dua wakil grup yang akan lolos ke fase gugur. Karena sudah mengetahui kalkulasi: jika Jerbar menang dengan selisih 1 atau 2 gol, maka dua negara tetangga tersebut yang akan lolos berdasarkan keunggulan selisih gol, mereka pun "berkonspirasi".

Benar saja, Jerman Barat mencetak gol di awal pertandingan melalui Horst Hrubesch pada menit ke-10. Sejak keunggulan tipis ini, selama 80 menit, kedua tim bermain "sandiwara" untuk mempertahankan skor. Jerman dan Austria lolos dengan kecaman keras yang menodai sportifitas. Pertandingan sepak bola yang benar-benar tak terlupakan.

Aljazair mengajukan protes meskipun FIFA tak mengubah nasib mereka. Tapi FIFA mengubah peraturan yang revolusioner, yakni dua pertandingan terakhir grup harus dilakukan secara serentak untuk menghindari keuntungan informasi seperti yang dinikmati Jerman Barat dan Austria.

Seluruh bangsa Aljazair marah dan trauma dengan pertandingan menjijikkan itu. Mereka tidak akan pernah memafkan kedua tim tersebut.

****

Kisah itu menggambarkan latar belakang sejarah untuk menantikan pertandingan Aljazair melawan Austria dalam laga terakhir Grup J Piala Dunia 2026 di Stadion Arrowhead, Kansas City, Missouri, AS. 

Duel panas sarat dendam yang terjadi setelah 44 tahun. Sebelum pertandingan dimulai bahkan sejak drawing akhir tahun 2025 , julukan untuk pertandingan ini sudah beredar luas, pembalasan "Aib Gijon".

Ini kesempatan langka bagi Aljazair. Pasukan muda ini bertekad mengerahkan seluruh kemampuan untuk membalas dendam lama leluhur mereka, dengan menyingkirkan Austria akan membawa kepuasan yang jauh lebih besar daripada sekadar tiga poin.

Saya turut emosional dan bersimpati pada Aljazair, merasakan gairah menantikan seperti apa jalannya pertandingan yang membuat saya melewatkan laga Argentina melawan Yordania yang dilaksanakan pada waktu yang sama.

Pertandingan pun dimulai. Usai beragantian menciptakan peluan, Austria unggul lebih dulu melalui gol Marko Arnautovic pada menit ke-28. Striker veteran itu menyelesaikan umpan panjang bek Philipp Mwene dengan sontekan pelan mengeceoh kiper Oussama Benbot. 1-0. Dengan kedudukan ini, Aljazair "Si Rubah Gurun" akan tersingkir berdasarkan selisih gol, dengan Iran. Mereka membutuhkan setidaknya hasil imbang untuk lolos.

Aljazair yang dilatih Vladimir Petkovic berhasil menyamakan skor setelah bola secara aneh memantul dari bendera pojok, memungkinkan Riyad Mahrez untuk mendapat bola dan menemukan bek kanan Rafik Belghali, yang kemudian mengecoh dua bek Austria sebelum melepaskan tembakan keras ke sudut atas gawang. Gol yang luar biasa di tiang dekat, 1-1. Akhir babak pertama yang menegangkan. 

Banyak dari kita khawatir akan pendekatan yang aman dari kedua tim, mengingat hasil imbang akan membuat keduanya lolos ke babak gugur, tetapi sebaliknya kita telah melihat dua tim yang benar-benar berjuang habis-habisan. Statistik dari babak pertama membuktikan hal tersebut.

Austria melakukan tiga pergantian memasuki babak kedua. Sepuluh menit berlanjut Austria kembali memimpin setelah serangan balik mematikan. Diawali gerakan lari dari Nicolas Seiwald mendahului bek kiri Jaouen Hadjam, kemudian mengumpan silang menyusur di atas kotak penalti, tepat ketika Marcel Sabitzer berlari kencang dan melepaskan tembakan keras ke gawang yang tak mungkin bisa diselamatkan Benbot.

Keunggulan Austria hanya bertahan enam menit. Aljazair kembali menyamakan kedudukan setelah kapten Ryad Mahrez menyambar umpan silang di sisi kanan kotak penalti Austria. Mahrez akhirnya mencetak gol Piala Dunia yang sangat dia dambakan, mengingatkan kita cara ia biasa mencetak gol untuk Manchester City. 2-2.

Dengan posisi ini, kedua tim akan lolos ke babak 32 besar. Laga selama 25 menit setelah hidration break temponya menurun, kita seolah menyaksikan pertandingan persahabatan. Kedua tim tidak ingin memaksakan diri dan membuat kesalahan karena hasil imbang 2-2 ini menguntungkan keduanya.

Tidak sedikit penonton sudah meninggalkan stadium, dan mereka pasti menyesal karena drama terjadi pada akhir laga. Mahrez kembali mencetak skor pada menit ke-94 dan sepertinya Aljazair akan menang, menyingkirkan Austria, dan membawa Iran lolos ke babak 32 besar.

Skuad Austria terkejut bukan main. Mereka harus menyamakan kedudukan jika ingin tetap bertahan di turnamen ini. Dan mereka mendapatkanya secara ajaib. Austria menyamakan kedudukan, ketika pemain pengganti Sasa Kalajdzic muncul di detik terakhir pertandingan untuk mencetak gol penyeimbang melalui sundulan. Skor akhir 3-3.

Dengan hasil imbang, mengantarkan kedua tim ke babak 32 besar. Austria finis di posisi kedua Grup J, dan akan menghadapi Spanyol di babak 32 besar. Sementara itu, Aljazair berhasil menduduki peringkat ketiga dan akan menghadapi Swiss. Tentu saja, menghancurkan harapan Iran, yang tak berhak menyalahkan hasil laga ini.

Aljazair memang belum berhasil menyingkirkan Austria untuk mengobati luka lama, namun mereka sudah bertarung dengan gigih dan menunjukkan semangat menjunjung sportifitas. Menampilkan salah satu pertandingan dramatis di Piala Dunia 2026.

Semoga lebih banyak pertandingan seperti ini. Sampai jumpa di babak gugur.





































Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konser Parade Hujan di Stadium Merdeka (7)

Drama Lima Babak Perundingan Aceh di Helsinki (16)

Kenangan di Prambanan Jazz