Manajemen Senyap Carlo Ancelotti

Saya tumbuh menjadi penggemar sepak bola persis saat Carlo Ancelotti berhenti sebagai pemain dan beralih menjadi asisten pelatih Italia pada World Cup 1994. Itu Piala Dunia pertama yang saya nonton.

Setelah itu saya mengikuti perjalanan karier kepelatihan Ancelotti sampai ia dinilai sebagai salah satu pelatih tersukses sepanjang sejarah. Publik akan sangat mudah mengasosiasikan Ancelotti adalah pelatih AC Milan dan Madrid. Dua klub yang memberikan lima trofi Liga Champions bagi Ancelotti.

Dari buku berjudul Quiet Leadership: Winning Hearts, Minds and Matches (2016) kita ingin mengetahui kiat dan cerita-cerita di balik pencapaiannya serta bagaimana ia menjalani hidup di luar sepak bola. Ia berbagi kepada pembaca kenangan hebat dan masa sulitnya.

Don Carlo menuangkan kumpulan refleksinya sebagai manajer sejak menjadi asisten pelatih Arrigo Sacchi di tim nasional Italia, kemudian debut di klub Reggiana, Parma, Juventus, AC Milan, Chelsea, PSG, dan Real Madrid. Saat buku ini rilis ia melatih Bayern Munchen, kemudian Napoli, Everton, balik ke Madrid, dan kini membesut tim nasional Brasil di World Cup 2026.

Ancelotti pelatih hebat dengan karier panjang karena ia sangat paham menjalin hubungan dengan semua pihak: dengan pemain, staf, manajer umum, suporter, dan tentunya presiden. Di Milan ia merasa seperti keluarga, sedangkan di Juventus dan Chelsea seperti perusahaan yang sangat orientasi profit. 

Ia kemudian mengkritik PSG sebagai klub yang pengelolaannya sangat buruk, tidak bermental Eropa. Ia terkejut klub sebesar PSG tidak memiliki restoran sendiri untuk memenuhi nutrizi pemain dan semua karyawan.

Ancelotti menceritakan bagaimana harus bersikap memenuhi "kemauan" presiden. Ia telah bekerja di bawah tuntutan berat: Silvio Berlusconi di Milan, Roman Abramovich di Chelsea, dan Florentino Perez di Madrid. Tiga bos yang tak mengenal ampun kepada pelatihnya. 

Namun ia berhasil memberikan dua trofi Eropa ke Berlusconi dan tiga untuk Perez, terutama saat memenangkan gelar Decima pada 2014 yang membuat Perez sangat terkesan. Di Chelsea ia sukses pada debut dengan double winner pada 2010, tapi kegagalan dua musim di Eropa membuatnya dipecat Abramohivic pada 2011.

Karakter leadership Ancelotti yang tenang dalam senyap ia pakai pada setiap aspek sepak bola, dari membina talent, merekrut pemain, menguasai ruang ganti, dan menangani ego pemain bintang. Tentang superstar, Ancelotti sudah pernah melatih pemain seperti Kaka, Zlatan Ibramovic, David Beckham, dan Critiano Ronaldo di Madrid. Alih-alih "lembek", ia piawai menjaga motivasi pemain mega bintang tersebut supaya selalu tampil maksimal. 

Pelatih dari Reggiolo ini juga bercerita menarik bagaimana mendatangkan Alesandro Nesta dari Lazio ke Milan, Clarence Seedorf dari Inter, dan Toni Kross dari Munchen ke Madrid. Mengapa ia sangat mengandalkan Seedorf dan Filippo Inzhagi di Milan, menyukai Zlatan di PSG, dan Sergio Ramos di Madrid juga terungkap. 

Ancelotti mengubah mental pemain, supaya bermain untuk tim dan bukan bermain baik untuk diri sendiri. Membuat banyak keputusan, dari memilih starting-11, ban kapten, taktik, dan sebagainya adalah tidak mudah dan tidak mungkin selalu berhasil. Namun Ancelotti selalu bisa cepat memulihkan tim ketika mereka kalah dalam satu atau dua game. 

Kemampuannya untuk mengatasi tekanan besar pantas dipuji. Carletto mengklaim karier dan metode kepelatihanya dipengaruhi referensi paling penting dari Nils Liedholm, pelatih AC Milan era 1960-an hingga 1987. Di buku ini juga ia menganalis taktiknya kala berhadapan dengan rivalnya, Arsene Wenger, Jose Mourinho, Pep Guardiola, Alex Ferguson, dan Valery Lobanovsky.

Di waktu senggang ia memilih banyak di rumah dengan hobi memasak, dan menonton film-film klasik seperti The Deer Hunter, The Goodfather, dan Life is Beautiful. Ia juga mengidolakan aktor Robert de Niro dan pebasket Michael Jordan.

Leadership can be learned but cannot be imitated.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konser Parade Hujan di Stadium Merdeka (7)

Drama Lima Babak Perundingan Aceh di Helsinki (16)

Berziarah ke Makam Nabi Muhammad SAW (8)