Malam Final Liga Champions di Pantai Losari
Pada hari Sabtu malam 30 Mei 2026, saya pergi ke Padang Coffee, di Jalan Penghibur Pantai Losari, Makassar. Cafe itu punya Fikar, teman sekolah, jadi kami memutuskan untuk menonton (nobar) final Liga Champions 2026 di sana.
Final 2026 berbeda dari sebelumnya, karena pertandingan dimulai pukul 24.00 Wita, lebih awal tiga jam dari biasanya. Pada pukul 22.20 Wita saya sudah tiba di lokasi.
Saya memang ingin menyaksikan opening ceremony dan merasakan sedapat mungkin atmosfer Puskas Arena, Budapest, Hungaria, venue final Liga Champions antara juara Inggris Arsenal menantang Paris Saint-Germain sang juara bertahan.
Siaran live streaming pertama kali memunculkan legenda sepak bola paling populer, David Beckham yang memasukkan koin di mesin Pepsi untuk memutar piringan hitam berlogo "The Killers". Sekejap pertunjukan dimulai di panggung di tengah lapangan dengan pencahayaan gemerlap, dan koreografi penari latar yang mengenakan kostum Eropa Tengah di bawah lampu stadion.
Para personil The Killers yakni Brandon Flowers, Dave Keuning, Mark Stoermer, dan Ronnie Vanucci Jr, kompak mengenakan jas tuksedo rapih, tampil penuh semangat mengajak penonton bernyanyi bersama, memainkan medley empat hits band rock asal Las Vegas ini: "When You Were Young", "Human", "All These Things That I've Done" dan closing anthem "Mr. Brightside".
Upacara yang memadukan suasana kemegahan konser rock dengan unsur budaya khas Hungaria. Karakter kuat vokal Flowers berhasil memukau 60 ribu penonton di Puskas Arena dan ratusan juta penonton layar kaca. Menciptakan suasana yang meriah sebelum para pemain keluar dari terowongan menyambut pertandingan yang sangat dinantikan antara Paris Saint-Germain dan Arsenal.
Thiery Henry dan Presnel Kimpembe mempersembahkan trofi "Kuping Besar" untuk dipamerkan yang diiringi musik dari pianis Hungaria Adam Gyorgy. Adam memainkan piano klasik Stenway and Sons untuk memperdengarkan lagu kebangsaan Liga Champions saat kedua finalis berbaris di lapangan.
****
Baru enam menit laga berjalan, Kai Havertz berhasil mendapatkan bola dari blok umpan Trossard, mengarah ke area kosong, Kay berlari mendahului bek PSG masuk ke area penalti dan melepaskan tendangan keras yang melewati atas kepala kiper Marvey Sofoniv dari sudut sempit.
Sejak unggul 1-0, Arsenal langsung bertahan dengan sangat baik dan teroragnisir. PSG seperti tak punya peluang berarti di babak pertama. Pertahanan Arsenal, yang dipimpin oleh Gabriel Magalhães (di lapangan), tetap kokoh di bawah tekanan PSG yang semakin meningkat pada babak kedua.
Hingga pada menit ke-61 Cristhian Mosquera dari Arsenal menjatuhkan Khvicha Kvaratskhelia dari PSG dan wasit menunjuk titik penalti. Ousmane Dembele maju dan mengecoh David Raya untuk menyamakan kedudukan. Pertandingan pun semakin seru.
Kedua tim memiliki peluang di setengah jam terakhir pertandingan, tetapi tidak ada yang mampu memanfaatkannya, sehingga pertandingan berlanjut ke babak perpanjangan waktu.
Sisa babak perpanjangan waktu diwarnai tekanan dari PSG dan pertahanan Arsenal yang patut dipuji, meskipun The Gunners juga sesekali menciptakan peluang. Kedua tim tidak berhasil mencetak gol dan untuk pertama kalinya sejak 2016, final Liga Champions berlanjut ke adu penalti.
Arsenal gagal di eksekusi kedua Eberezi Eze karena tendangannya melebar, sedangkan tendangan eksekutor ketiga PSG Nuno Mendes dapat diblok Raya, menjadikan sama kuat 3-3, menyisakan dua lagi. Achraf Hakimi dan Gabriel Martinelli berhasil, 4-4. Dan tibalah penendang kelima, Lucas Beraldo sukses dan menyisakan Gabriel yang tak boleh gagal. Gabriel maju, tarik napas, tetapi tendangannya melambung di atas mistar gawang.
PSG kembali menjadi juara Eropa. Kemenangan bersejarah ini menandai gelar juara Eropa kedua berturut-turut bagi raksasa Prancis tersebut, menjadikan mereka tim pertama sejak Real Madrid pada tahun 2018 yang berhasil mempertahankan gelar.
Sedangkan Arsenal masih gagal di final keduanya. PSG memenangkan final dengan selisih yang sangat tipis. Kalah adu penalti adalah cara paling kejam untuk diterima dalam laga sebesar final Liga Champions. Butuh mencernanya sebelum berdamai dengan kekalahan.
Final Liga Champions bukan sekadar sepak bola, selalu terukir kisah yang menciptakan drama penuh emosi. Sampai jumpa musim depan.


Komentar
Posting Komentar