Alexander Zverev Menaklukkan "Gunung Everest"
Sebelum final Roland Garros 2026 Alexander Zverev melawan Flavio Cobboli, saya memutar kembali Netflix serie "Break Point" episode "Unfinished Business".
Pada episode itu mengisahkan momen dan perjuangan Zverev mengalami cedera sangat parah di babak semifinal Roland Garros 2022 ketika melawan Rafael Nadal. Pertandingan berlangsung seru dengan permainan tenis hebat selama tiga jam. Salah satu penampilan terbaik Zverev, ia berpeluang mengalahkan Nadal dan diambang juara sekaligus menjadi petenis nomor satu dunia.
Drama terjadi di akhir set-2 ketika Sascha-panggilan akrab Zverev- tersungkur saat memukul bola di baseline. Ia menjerit kesakitan pertanda sesuatu yang buruk telah terjadi. Benar, tiga ligamen kakinya patah, kerusakan tulang juga sangat parah. Ia harus menggunakan kursi roda meninggalkan lapangan Philippe Chatrier. Yang lebih merisaukan cedera mengerikan ini akan mengakhiri kariernya. Sangat getir menyaksikan momen tersebut.
Sascha dioperasi oleh dokter yang tidak menjamin ia bisa kembali kompetitif. Setelah operasi, ia tidak bisa berjalan, dan harus selalu dibantu. Membuatnya merasa khawatir, tertekan, meragukan diri. Untung ada keluarga dan kekasih Sophia Tamalla yang selalu mendampinginya. Walaupun mereka tak ada yang menjamin Sascha akan benar-benar kembali seperti semula. "Bagaikan mendaki Gunung Everest", ujar Mishca Zverev, saudara Sascha yang juga mantan petenis.
Sascha memilih tetap positif, ia disiplin ke pusat rehabilitasi, mencoba berjalan di kolam renang, dan mengayuh sepeda statis. Ia bertekad tetap sehat, membentuk tubuhnya lagi, menguatkan pergelangan kaki kembali. Tujuh bulan sejak operasi ia sudah bisa berlari ringan. Begitulah prosesnya, dan Sascha melakukan semua dengan benar yang seharusnya dilakukan walau ia sendiri tahu tidak ada jaminan.
Sascha pulih lebih cepat dari yang diperkirakan, turnamen pertama yang ia ikut adalah Monte Carlo Master, di mana ia maju ke babak ketiga sebelum dikalahkan Dani Medvedev yang provokatif.
Turnamen berlanjut di Roland Garros 2023, persis satu tahun dari musibah. Sempat ada trauma saat ia pergi ke Paris dan bertanding lagi di Philippe Chatrier. Namun ia berhasil mengalahkan petenis kuat AS Francis Tiafoe di babak ketiga sebagai pesan bahwa ia telah kembali kompetitif. Langkahnya terhenti di semifinal oleh Casper Ruud. Tiga bulan kemudian ia menang di Hamburg, kota kelahiranya, menandai ia akan menciptakan kenangan baru.
Sascha telah kembali ke persaingan, tapi hingga 2026 ia belum memenangkan Grand Slam, walau ia tiga kali menembus final, yakni final US Open 2020 kalah dari Dominic Thiem setelah unggul dua set awal, diikuti oleh final lima set dari Carlos Alcaraz di Roland Garros 2024. Terakhir kali ia mampu ke final Australia Terbuka 2025 dan dikalahkan secara telak oleh Jannik Sinner.
Waktu Sascha hampir habis saat ia memasuki 2026 berusia 29 tahun.
****
Pada Minggu sore 7 Juni 2026, kota Paris sangat cerah sekitar 21 derajat, cuaca yang sangat bagus untuk pertandingan final putra Roland Garros 2026. 15.000 penggemar tenis hadir di Philippe Chatrier, termasuk Lenny Kravits, Eric Cantona, Remy Malek, Arsene Wenger, dan sejumlah tokoh terkenal.
Sebelum laga ada pre-match celebrations, pertunjukan tari bertema tenis yang fantastis di lapangan tanah liat yang dirancang koreografer terkemuka Benjamin Millepied. Di akhir show mereka mempersembahkan trofi "Coupe des Mousquetaires", lambang supremasi tunggal putra, bersamaan flare merah-biru-putih di langit Paris dengan latar Eifel yang menjulang.
Final tunggal putra segera berlangsung. Alexander Zverev melawan Flavio Cobolli, keduanya mengincar gelar Grand Slam pertama. Sascha diperkirakan akan menang, tapi Cobboli memiliki bakat besar. Pukulan forehand-nya luar biasa, ia melakukan return dengan sangat baik dan bergerak dengan kaki yang lincah. Ia akan sangat merepotkan Sascha.
Setelah bertanding empat jam lebih, Alexander Zverev mengalahkan Flavio Cobolli 6-1 4-6 6-4 6-7 6-1. Sascha Zverev telah menjadi juara Grand Slam. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas tanah liat, air mata mengalir, dan semua penderitaan, semua ketakutan, semua rasa malu, telah berganti kesuksesan dan kebanggaan. Sascha menyambangi tribun penonton dan merayakan kemenangan bersama orang-orang terdekatnya, saudara laki-lakinya, ayahnya, ibunya dan mereka akan menikmati malam istimewa.
Pada upacara selebrasi, Sascha menerima trofi dan mengangkatnya ke langit dengan penuh semangat, betapa bahagia perasaannya. Saya bergidik menyaksikan momen ini, turut bergembira untuk Sascha. Membayangkan berapa panjang waktu dan betapa keras perjuangan yang telah ia tanggung untuk memenangkan Grand Slam.
Sacha telah menang puluhan turnamen, juara final ATP dua kali, menyabet emas Olimpiade, dan kini ia juara Grand Slam. Ia telah mendapatkan dan tak seorang pun bisa mengambilnya darinya. Sascha telah menaklukkan "Gunung Everest".
Sascha adalah juara sejati yang pantas dipuji.

Komentar
Posting Komentar