Cerita Ujian Skripsi

Ternyata sudah 20 tahun. 

Saya termasuk orang yang bisa mengingat dan menjelaskan momen pengalaman-pengalaman istimewa dalam perjalanan hidup sejak kanak-kanak hingga sekarang.

Saya ingat kapan pertama kali datang ke Jogja untuk sekolah (14 Juli 1997); waktu pertama kali bertemu dengan istri, Vera (4 Juni 2011); ujian promosi disertasi (28 Agustus 2019); atau nomor telepon rumah kami (871640 dan berganti 872842); nomor handphone pertama (08174113520); begadang pertama menyaksikan final Liga Champions  (24 Mei 1995) dan beberapa peristiwa lagi.

****

Pagi yang cerah itu pada Jumat 13 Mei 2005, dengan kemeja putih berdasi hitam, celana hitam, dan sepatu pantofel hitam yang sudah disemir-penampilan terbaik saya selama menjadi mahasiswa, saya pamit dan mohon doa pada ibu untuk berangkat ke kampus.

Hari itu saya bersiap menempuh ujian skripsi di Fakultas Hukum Universitas Muhammdiyah Yogyakarta (FH UMY). Seingat saya ada lima mahasiswa yang juga terjadwal ujian di bagian Hukum Tata Negara (HTN). Giliran saya yang ketiga, berlangsung mulai pukul 10.40 dan selesai pukul 11.30, sekitar 50 menit. 

Saya berdiri di hadapan tim penguji: Anang Sya'roni (alm), Septi Wijayanti, Haris Aulawi, dan Achmad Yulianto. Skripsi yang akan saya pertahankan berjudul: Pelaksanaan Kekuasaan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pasca Amandemen Undang Undang Dasar 1945. Tiga fokus penelitian: Kekuasaan legislatif, kekuasaan pengawasan, dan kekuasaan anggaran DPR.

Apakah saya bisa menjawab semua pertanyaan dengan meyakinkan? Jawabnya tidak.

Meski pun saya sudah berusaha belajar dan mencoba mengantisipasi bentuk pertanyaan dengan simulasi, tetap saja ada beberapa jawaban saya yang kurang memuaskan, terutama menanggapi penguji Anang Syaroni yang mengejar penjelasan yang terstruktur. 

Jelas itu adalah campuran sikap gugup, tidak fokus, dan tidak kuat analisnya karena saya tidak menentukan teori hukum dan merekonstruksinya dengan tepat untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Ujian skripsi itu bersifat komprehensif, jadi kalaupun kita bisa mengetahui bahkan menghapal apa yang sudah kita ketik di draft skripsi yang tebalnya 90-150 halaman, itu tidak menjamin kita bisa menjawab pertanyaan yang selalu diajukan di luar antisipasi. Hanya akulumasi pengetahuan bertahun-tahun yang sudah kita pelajari yang bisa menjawab pertanyaan model demikian.

Setiap penguji selalu punya cara dan pakem mengajukan pertanyaan, ada penguji yang menanyakan metodologinya, penguji lain mengejar substansinya, dan penguji yang lain lagi menyidik ​​orisinalitas dan sebagainya. 

Bahkan ada penguj yang meminta penjelasan bagian awal skripsi, seperti halaman persembahan, alasan mengutip kalimat menggugah sebagai halaman motto dan apa kaitannya dengan skripsi, dan sikap saya jika terjadi pertentangan ideologi dan pragmatis. Semua sah untuk ditanyakan. Jika pertanyaan semakin sederhana maka sebenarnya jawaban yang diperlukan menuntut analisis yang kompleks.

Setelah mengikuti ujian yang menegangkan, saya dipersilakan keluar untuk menunggu hasil, akan diumumkan kolektif bersama empat mahasiswa lain. Pelaksanan ujian break karena menjelang salat jumat. Dilanjutkan pada pukul 14.00 untuk dua mahasiswa lagi. Jeda itu menambah kegelisahan dan ketegangan, baik yang sudah dan yang belum diuji.

Pada waktunya tiba, kami berlima berdiri berbanjar mendengarkan pengumuman hasil ujian yang dibacakan ketua sidang Haris Aulawi, mewakili Dekan Dewi Nurul Musjtari (almh). Rasa lega dan syukur kami berlima semua dinyatakan lulus. Skripsi saya dinilai B+, dua level di bawah nilai A. Satu di antara kami mendapatkan nilai Cumlaude (A), ada juga mendapatkan A-.

Dengan perasaan haru dan bahagia, saya tak berhenti mensyukuri betapa berartinya ini bagi saya. Akhirnya dengan segala ikhitiar, doa ibu dan ayah, bantuan dan motivasi teman-teman, saya bisa menyelesaikan studi setelah sembilan semester dan tiga kali ikut semester pendek. 

Pada Sabtu 18 Juni 2005, impian saya mengenakan toga mengikuti wisuda yang sakral benar-benar terwujud. Sejak itu saya resmi diberi gelar Sarjana Hukum (S.H). 









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Enlightenment Now: Kehidupan Menjadi Lebih Baik

Setelah Balapan, Konser Keren Lenny Kravitz (10)

Kenangan di Prambanan Jazz