Suatu Waktu di Wondula Sorowako

Saya, yang sejak lahir, tumbuh kembang, sekolah, dan bekerja di kota, senantiasa merasa senang manakala ada kesempatan untuk sejenak menepi menikmati suasana alam pedesaan yang sejuk dan masih asri. Tak ada macet, tak ada bising, tak banyak dering ponsel, dan tak ada ketergesa-gesaan. 

Kali ini Desa Wawondula Sorowako, Luwu Timur, menjadi tempat melepas lelah sejenak dari kepenatan kota Makassar.

Ketika tiba setelah menempuh perjalanan panjang, selama 15 jam, dari kota Makassar, kesan sejuk langsung menyergap. Angin semilir terasa memasuki ruangan dan memberikan suasana segar pedesaan. 

Di Wowundula, kami tinggal di rumah semi kayu yang sangat fungsional menurut saya. Bapak mertua saya, dulunya karyawan PT Inco (Sekarang PT Vale), membangun unit rumah dengan mengadopsi rumah-rumah karyawan perusahaan yang bergaya Eropa klasik. 

Dari teras belakang rumah, kita bisa menyaksikan pemandangan Gunung Wawomeusa, dilewati sungai dengan air jernih, gunung yang terdiri beberapa perbukitan dengan hamparan sawah yang menyejukkan mata. Masyarakat di Wondula menyebutkannya bukit Teletubbies.

Waktu pagi hari di Wondula paling luar biasa, ketika minum kopi bagian depan rumah yang tumbuh pohon-pohon, saya menyaksikan beberapa karyawan PT Vale yang tinggal di desa ini dijemput oleh shuttle bus company

Sore hari menjelang Magrib, saya melihat ada anak perempuan kecil, ia tetangga puluhan meter dari rumah. Ia duduk di depan rumahnya siap menyambut ayahnya. Tidak lama momen hangat itu tiba. Ayahnya baru pulang dari pabrik, mengenakan seragam Vale turun dari shuttle bus. Sang anak langsung berlari mendekap ayahnya yang baru pulang kerja, seperti tidak bertemu lama. Apa yang saya saksikan seperti menonton adegan-adegan film Amerika.

Wawondula adalah desa tetapi dalam hal fasilitas dan Infrastruktur, tidaklah sama dengan desa pada umumnya. Desa Wawondula memiliki banyak sarana umum, tempat ibadah, mesjid dan gereja tersebar di mana-mana. 

Selain itu pasar, rumah sakit, sekolah, sport centre, tempat hiburan, dan banyak lagi. Salah satu yang juga penting adalah seluruh jalan di wawondula telah beraspal dengan kualitas bagus, sehingga anda tidak perlu lagi menghirup debu-debu di jalan. 

Saya berkunjung ke Wowundula pada tahun 2016, tapi saya masih mengenangnya sebagai perjalanan berkesan bersama keluarganya.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konser Parade Hujan di Stadium Merdeka (7)

Kenangan di Prambanan Jazz

Jumbo: Dongeng Kesatria dari Kampung Seruni