Cerita dari Taman Baca Ubud (15)
Saya senang menghadiri lagi Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2025, setelah terakhir pada edisi 2019, walaupun saya datang hanya satu hari dari lima hari pelaksanana, pada hari ke-3, Jumat 31 Oktober 2025.
Hari itu itu saya berpisah tujuan dengan Vera, Siti, dan Uswa. Sementara saya sepanjang hari di venue UWRF, mereka bertiga memilih menjelajahi tempat-tempat menarik di Ubud yang memiliki alam dan nuansa pedesaan, juga seni dan budaya yang sudah terkenal.
Begitu tiba di Taman Baca, lokasi utama UWRF, pada pukul 11.00, terlebih dulu saya jajan seporsi bakso Afung di festival food. Bakso daging sapi ini memang selalu membuat saya kenyang dan merasa puas menyantapnya. Saya pun siap bergabung dalam diskusi-diskusi panel dan program yang sudah terjadwal.
UWRF adalah festival tahunan yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2004, diinisiasi Janet DeNeefe dan diprakarsai Yayasan Mudra Swari Saraswati. Ruang pertemuan para pemikir hebat, pembuat karya, penulis, dan pembaca dari penjuru dunia. Menjadikannya satu festival sastra paling bergengsi. Surat kabar berpengaruh Inggris The Telegraph menobatkan UWRF sebagai salah satu dari lima festival sastra terbaik di dunia.
Edisi UWRF 2025 mengambil tema Aham Brahmasmi- I am The Universe, sebuah konsep sansekerta dari kebijaksanaan filosofi Hindu yang menandakan kesatuan diri manusia dengan alam semesta, dan menghormati bahwa setiap individu memiliki potensi kreatif yang berguna.
Menampilkan ratusan pembicara dan program, dari diskusi panel mendalam (main programme), special event, workshop, peluncuran buku, dan pemutaran film. Untuk program utama setiap hari dilaksanakan 21 sesi diskusi yang dilaksanakan paralel di tiga panggung: Alang-Alang Stage, Valey Stage, dan Indus Restaurant. Setiap sesi berlangsung 60 menit, membedah isu-isu global yang sedang hangat. Pengunjung bebas menentukan sesi apa yang hendak ia hadiri.
Hari Jumat itu saya hanya mengikuti lima tema sesi, berturut Artificial Inttelligience and Indonesia, Capturing South East Asia's Collective Memory, Seeking Discomfort, Religion and Imagination, In Conversation with Klaas Stutje, mulai pukul 11. 00 hingga selesai pukul 17.30.
Setalah itu break sekitar satu jam, menantikan dua program, yakni special event The 100th Printing of Laut Bercerita pukul 18.30; dan penayangan film dokumenter The Last Accord: War, Apocalypse, and Peace in Aceh pada pukul 20.20. Saya menyempatkan makan nasi pecel bergabung dengan puluhan pengunjung yang juga sedang menikmati santap petang di pujasera.
Program diskusi novel Laut Bercerita (2017) karya Leila S Chudori di Alang-Alang Stage menarik minat banyak pembaca. Leila bersama Debra Yatim, dan pihak penerbit KPG mengulas mengapa novel ini sangat laku hingga bisa naik cetak sebanyak 100 kali. Termasuk Gen-Z, padahal karakter dan setting novel tahun 1991 hingga reformasi 1998, yang sebagian dari mereka masih balita atau bahkan belum lahir.
Usai diskusi interaktif, ditutup dengan penayangan film pendek adaptasi novel berjudul The Sea Speaks His Name. Film ini dibintangi aktor dan aktris papan atas. Reza Rahadian, Dian Sastro, Ayu Sita, Lukman Sardi, Tio Pakusadewo. Akting mereka semua mengesankan tak perlu diragukan.
Tapi dari awal saya menontonnya dengan ekpektasi rendah walaupun juga penasaran. Usai menonton ekspektasi saya benar, kita tidak bisa mencapai klimaks sebagaimana kita dapatkan saat membaca novelnya. Buku selalu tak tergantikan.
Salam hangat dari Ubud.




Komentar
Posting Komentar